Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap Warga Binaan yang Terinfeksi HIV AIDS (ODHA)

Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap ODHA

Say No to Drugs

Slogan juga himbauan tersebut tentu sering sekali kita lihat dan dengar, baik melalui spanduk-spanduk maupun commercial ads di media tv, radio dan juga online.

Bukan tanpa alasan kalau pemerintah kita berusaha keras memberantas penyalahgunaan narkotika. Akibat yang ditimbulkan karena penyalahgunaan penggunaan narkotika sangat beragam, salah satunya menjadi penyebab timbulnya virus HIV AIDS.

Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap ODHA

Para pecandu narkotika juga tidak sedikit yang akhirnya mendekam di balik jeruji penjara sebagai warga binaan.

Pada Senin (17/12) lalu, dalam rangka memperingati Hari AIDS Se-dunia, Kemenkes bekerjasama dengan Lapas Narkotika IIA Cipinang menggelar diskusi dengan tema “Saya Berani, Saya Sehat. Ada Obat Ada Jalan”.

Narasumber yang hadir antara lain:

  • Bapak Asep Sutandar, A. Md Ip,S. Sos, M.Si selaku Ketua Lapas Narkotika Kelas II A, Cipinang
  • Bapak Lilik Sujandi, Bc Ip, SIP, M. Si, selaku Direktur Pengawasan Kesehatan Lapas Narkotika Kelas II A, Cipinang
  • dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes
  • dr. Yusman, petugas kesehatan di Lapas Narkotika Lapas Kelas II A, Cipinang
  • Wesli, mantan pecandu Narkotika yang juga ODHA

Maraknya penggunaan Narkotika, membuat Lapas Narkotika Kelas IIA, Cipinang mengalami over capacity. Tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 2.453 penghuni dari daya tampung sebesar 1.084 penghuni.

Hal tersebut tentu berakibat pada penggunaan fasilitas yang menjadi kurang maksimal. Namun demikian Lapas Cipinang berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan kesehatan kepada warga binaannya, terutama bagi yang terkena virus HIV.

Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap ODHA
Bapak Lilik Sujandi, Bapak Asep Sutandar

Menurut Bapak Asep Sutandar, Lapas Narkotika sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah Kementrian Hukum dan HAM bekerjasama dengan Kemenkes dalam memberikan layanan kesehatan terutama kepada warga binaan yang terkena HIV.

Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap ODHA
dr. Yusman dari Lapas Narkotika Kelas IIA, Cipinang

Baca juga : HIV AIDS Ada Obatnya, Jangan Jauhi Penderitanya (ODHA)

Pengobatan ODHA di Lapas Cipinang dengan ARV

Setiap warga binaan yang berada di dalam Lapas Cipinang melalui tes screening HIV. Jadi apabila terdeteksi HIV bisa langsung ditangani dan diberikan obat yang berupa ARV (Anti Retro Viral).

ARV dijamin ketersediaannya oleh pemerintah dan juga gratis pemanfaatannya. Oleh sebab itu pihak Lapas Cipinang memberikan layanan kesehatan pada warga binaannya terkait HIV.

Bekerjasama dengan Kemenkes, Lapas Cipinang memberikan sosialisasi pada petugas kesehatan di Lapas Cipinang mengenai HIV AIDS terutama mengenai penularan dan penanganan ODHA.

Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap ODHA
dr. Wiendra Waworuntu (tengah)

Seperti yang diterangkan dr. Wiendra Waworuntu bahwa HIV tidak menular hanya karena kita berpelukan, menggunakan toilet bersama, bersentuhan, penggunaan alat makan bersama, gigitan nyamuk dan tinggal serumah dengan ODHA.

Warga binaan yang juga ODHA masih dapat beraktifitas asalkan rutin mengkonsumsi obat ARV secara disiplin. Karena dengan terapi ARV membuka peluang/jalan agar ODHA dapat hidup sehat seperti orang normal lainnya.

Namun adakalanya para ODHA mengalami kendala dalam menjalani pengobatan. Faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan tersebut antara lain:

1.Faktor Internal

a. persepsi mengenai sakit, merasa sehat dan tidak perlu berobat

b. kondisi : secara fisik merasa sehat, tidak nyaman karena efek samping

c. beban : merasa berat minum obat ARV seumur hidup, merasa berat sering datang konsultasi ke layanan, dan juga merasa bosan

d. faktor lain : mulai mengkonsumsi obat/narkotika lagi, dosis yang tidak cukup karena mengakses PTRM.

2.Layanan

a. performa layanan: adanya petugas yang tidak nyaman berhubungan dengan ODHA dan bersikap diskriminatif dan kurangnya tenaga layanan hingga ODHA mengantri lama dan tidak maksimal dalam melayani

b. stigma: takut bertemu orang yang dikenal di layanan sehingga statusnya diketahui

c. hambatan finansial: kendala akses BPJS

d. aksesibilitas: jarak layanan yang jauh dan jam layanan yang berbenturan dengan kegiatan lain/pekerjaan si ODHA

e. pasokan ARV : kuatir bila ARV tidak ada lagi

3.Lingkungan

a. dukungan lingkungan terdekat: kuatir tidak didukung karena adanya persepsi negatif dan takut karena status ODHAnya diketahui akan mendapat perlakuan buruk

b. info yang tidak akurat: walau teman berpotensi memberi dukungan dan informasi, namun dalam banyak kasus teman juga menjadi penghambat dalam memulai terapi ARV.

Kisah Wesli ODHA yang berani menatap masa depan

Penolakan juga pernah dialami Wesli, salah satu warga binaan Lapas Cipinang yang juga ODHA. Wesli yang pertama kali mengenal narkotika jenis putaw ketika duduk di sekolah menengah.

Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap ODHA
Wesli, warga binaan Lapas Narkotika Cipinang, ODHA

Kebiasaan dan lingkungan yang mendukung, membuat Wesli semakin terjerumus hingga juga menggunakan jenis narkotika dengan jarum suntik.

Perasaan sedih dan takut menghantui Wesli, apalagi saat mengetahui terkena virus HIV Wesli sudah mempunya istri dan anak. Penyesalan memang datang terlambat, namun Wesli bertekat untuk dapat hidup normal dan berjanji untuk bisa lepas dari narkotika.

Oleh sebab itu Wesli rutin mengikuti konsultasi di layanan dan rutin mengkonsumsi ARV agar virus HIV yang ada dalam tubuhnya dapat terkendali. ARV memang bukan untuk menyembuhkan, tapi setidaknya dengan ARV Wesli dapat beraktifitas layaknya orang kebanyakan.

Salah satu kasus Wesli, menunjukkan bahwa Lapas Narkotika Cipinang menjadi satelit karena sudah bisa menekan mata rantai HIV AIDS dan mencegah penularan virus di Lapas Cipinang. Upaya screening terus dilakukan untuk warga binaan ketika memasuki lapas, apabila terdeteksi virus HIV diberi pengobatan dengan ARV.

Kerja sama lintas sektor dalam melakukan deteksi dini dan pengobatan segera untuk pencegahan penularan HIV mampu mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan untuk mengakhiri epidemi HIV AIDS tahun 2030.

Pada puncak Hari AIDS Se-dunia tahun 2018, diharapkan agar tercapainya 3 Zero antara lain :
1. Zero (Tidak ada lagi) infeksi baru HIV,
2. Zero (Tidak ada lagi) kematian akibat AIDS, dan
3. Zero (Tidak ada lagi) Stigma dan Diskriminasi

ODHA yang produktif sama dengan warga lainnya yang akan memberi manfaat pada lingkungan. “Saya Berani Saya Sehat” #adaobatadajalan menjadi menjadi pelecut semangat dimana ada kemajuan ada jalan.

Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap ODHA
Saya Berani, Saya Sehat #adaobatadajalan

2 Replies to “Dukungan Lapas Narkotika Cipinang dan Kemenkes terhadap Warga Binaan yang Terinfeksi HIV AIDS (ODHA)”

  1. Odha memang ada di sekitar kita, tidak perlu takut akan tertular.

    Jangan diskriminatif karena mereka juga manusia punya rasa dan kebutuhan untuk memenuhi dirinya dan keluarganya

  2. Langkah pemerintah yang cukup bagus untuk mencegah tertularnya HIV, ini ODHA-nya juga gak perlu khawatir lagi dan bisa tetap beraktivitas normal yaa

Leave a Reply