Ketika "Ular Tangga" Bukan Lagi Jadi Permainan Biasa 


Film thriller atau horror sebenarnya bukan jenis film favorit saya. Butuh effort tersendiri untuk berani menonton jenis film tersebut hehehe 😂. Mencoba keberuntungan dan uji nyali waktu pertama kali saya memutuskan untuk ikut mendaftar event nobar film “Ular Tangga ” yang diposting oleh BloggerCrony Community. “Aah.. Gak ada salahnya sekali-sekali nonton film thriller buatan Indonesia, lepas sebentar dari comfort zone sekalian uji adrenalin..hehe “,dalam hati saya berkata.
Film yang dibintangi oleh Shareefa Danish,  Vicky Monica,  Ahmad Affandy,  Alessia Cestaro,  Randa Septian,  Fauzan Nasrul, Yova Gracia ini diproduksi oleh PT Lingkar Film dan disutradarai oleh Arie Azis yang seperti kita ketahui banyak memproduksi film bergenre sama seperti “Suster Ngesot” yang sempat booming di kancah perfilman Indonesia. Film ini juga diproduseri oleh Tommy Soemarni yang usianya baru 14tahun (jadi produser termuda). Wow.. Saya umur 14tahun buat apa ya..? Main bekel dan lompat tali ma teman-teman ☺ .

Sekilas melihat posternya yang suram berefek misteri, membuat saya penasaran untuk menontonnya. Apalagi ada permainan ular tangga yang kotaknya seperti dalam film Hollywood “Jumanji”. Tapi jauh berbeda jalan ceritanya walau menurut saya ada kemiripan di temanya yaitu tentang permainan yang membawa petaka.
Film dibuka dengan adegan Vicky Monica sebagai Fina, mahasiswi cantik yang memiliki indra keenam, yang bermimpi mendapat pertanda buruk akan menimpa teman-temannya. Fina sempat melontarkan kekhawatirannya tentang rencana hiking mereka ke Bagas, kekasihnya (diperankan oleh Ahmad Affandy). Tetapi Bagas tidak mengindahkan bahkan tidak suka ketika tahu Fina masih membaca buku “Dream”nya Sigmund Freud “Kamu tuh terpengaruh buku ini, makanya mimpipun kamu terlalu dipikirin”,sambil berlalu Bagas mengambil buku “Dream” yang Fina bawa.
Hiking yang memang sudah mereka rencanakanpun tetap dijalankan. Fina, Bagas, dan keempat sahabat mereka lainnya (Martha, William, Dodoy dan Lani) pun mulai berangkat dengan dipandu oleh Gina, diperankan oleh Shareefa Danish. Alur cerita mulai bergulir, efek misteri mulai teraba disini. Sesampai di lokasi Gina sang pemandu sempat menegaskan kepada mereka untuk menuruti apa yang dikatakannya untuk tidak meninggalkan jejak di hutan dan tidak mengambil apapun dari sana. Peta pendakian pun sudah diserahkan dengan catatan untuk tidak melanggar jalur yang sudah ditentukan. Namun kecerobohan terjadi yang akhirnya membawa malapetaka bagi mereka. Dimulai dari jalur yang mereka langgar hingga membawa mereka kesebuah rumah tua dan penemuan permainan ular tangga yang terpendam dibawah tanah di sebuah pohon tua. Di sinilah awal petaka dimulai.

img_20170307_175549.jpg
Papan Ular Tangga
Dari penemuan papan permainan ular tangga inilah, satu persatu temannya menghilang setelah mencoba memainkan permainan itu, termasuk kekasihnya Bagas. Misteri berlanjut dengan munculnya tokoh 2(dua)gadis kecil dan nenek penunggu pohon besar, yang berhubungan dengan papan permainan ular tangga. Finapun semakin merasa bersalah, terlebih mendengar cerita dibalik papan permainan ular tangga itu. Akankah teman-temannya kembali? Yang menarik lagi siapakah Gina itu sebenarnya? Apa hubungannya dengan Nenek penunggu pohon besar? 
Antusiasme penonton Ular Tangga 
Akhir film Ular Tangga ini menurut saya menarik karena tidak mudah tertebak. Sound effect pun mendukung jalan cerita, walau terkadang ada backsound lagu yang menurut saya kurang pas. Penasaran? Yuuk tonton keseruan dan ketegangannya di bioskop-bioskop kesayangan kalian. 
Penulis dengan Athiyah Shahab dan Khadijah Shahab, pemeran gadis kecil di film Ular Tangga

HQ’17

0 Replies to “Ketika "Ular Tangga" Bukan Lagi Jadi Permainan Biasa ”

  1. Aku nonton film Horor Indonesia itu suka kena efek samping after movie. Suka keingat2. Tonton film barat tidak setakut nonton film horor kita.

Leave a Reply