Memetakan Potensi Bencana dan Strategi Jitu Mitigasi

Memetakan potensi bencana dan strategi jitu mitigasi

Masih jelas sekali teringat beberapa kejadian bencana alam di beberapa wilayah di negara kita, Indonesia. Mulai dari Aceh, Lombok, Palu, dan Banten yang kesemuanya membawa korban baik harta benda dan nyawa. Negara kita memang berada dalam wilayah rawan bencana (ring of fire).

Memetakan potensi bencana dan strategi jitu mitigasi

Total korban jiwa akibat bencana alam yang ada di dunia, hampir separuh ada di Indonesia, yaitu mencapai 4.535 jiwa. Bencana yang terjadi mulai dari gempa, tsunami dan erupsi gunung berapi.

Baca juga : BUMN Bersinergi Membangun Palu Pasca Gempa dan Tsunami

Sadar akan hal tersebut, pemerintah dalam hal ini BNPB dan BPBD atas instruksi Bapak Presiden Joko Widodo mengambil langkah terkait implementasi mitigasi bencana.

Namun sebelum mengambil tindakan mitigasi tersebut, pemerintah dalam hal ini BMKG telah melalukan pemetaan kawasan rawan bencana (KRB) yang diinformasikan ke daerah-daerah. Peta KRB inilah yang menjadi acuan dalam pengembangan suatu wilayah.

Memetakan potensi bencana dan strategi jitu mitigasi

Salah satu peta KRB dapat kita peroleh informasinya ada di laman Geoportal KSP yang telah diluncurkan di akhir tahun 2018 lalu. Laman ini menjadi geoportal acuan baikbagi Kementrian dan Lembaga serta masyarakat yang membutuhkan Satu Peta Indonesia.

Dalam laman tersebut terdapat 85 peta tematik yang mencakup tujuh tema, yaitu batas wilayah, kehutanan, perencanaan ruang, sarana prasarana, perizinan dan pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan, serta kawasan khusus dan transmigrasi.

Terkait dengan hal tersebut Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) mengadakan diskusi dengan mengambil tema Potensi dan Mitigasi Bencana, yang bertempat di auditorium Gedung BMKG, Jakarta Pusat pada Jumat (8/02).

Memetakan potensi bencana dan strategi jitu mitigasi
Cheryl Tanzil (moderator) dan ke empat narasumber diskusi Potensi dan Mitigasi Bencana

Hadir di diskusi kali ini yaitu Hendra Gunawan selaku Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Badan Geologi Kementrian ESDM, Antonius Bambang Wijanarko selaku Kepala Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamik, Hasanuddin Z Abidin selaku Kepala Badan Informasi Geospasial, dan Rahmat Triyono selaku Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami.

Dengan adanya pemetaan tersebut, memudahkan pemerintah  dalam membuat strategi dan implementasi mitigasi bencana di negara kita.

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman.

Memetakan potensi bencana dan strategi jitu mitigasi

Dengan adanya pemetaan ini pula dapat mengurangi jumlah korban dan kerusakan infrastruktur, sebagai bagian dari mitigasi bencana geologi seperti gempa bumi, gunung berapi dan tanah longsor.

Menurut Badan Geologi, potensi rawan erupsi gunung berapi yang dimonitor sebanyak 70 dari 127 gunung api aktif yang membentang dari barat hingga timur Indonesia. Bisa dibayangkan ya teman, posisi geografis negara kita ini.

Inilah 6 poin penting sesuai arahan bapak Presiden dalam mitigasi bencana yaitu:

  1. Perencanaan rancangan pembangunan di daerah yang harus berdasarkan penghitungan risiko kebencanaan. Dalam hal ini pemda harus tegas menetapkan tata ruang berbasis resiko bencana.
  2. Keterlibatan akademisi dan pakar-pakar kebencanaan untuk meneliti, mengkaji dan menganalisis potensi bencana. Hal tersebut dilakukan agar kita mampu memprediksi siklus ancaman, mengantisipai dan mengurangi dampak bencana.
  3. Pemerintah daerah harus siap siaga dalam menghadapi bencana di wilayah otoritas masing-masing, dengan didukung pangdam dan juga kapolda.
  4. Perawatan sistem peringatan dini bencana terpadu berbasiskan rekomendasi hasil penelitian dan pengkajian para pakar.  Tim intelejensi BNPB akan langsung membuat analisis terkait titik-titik rawan bencana yang membutuhkan kehadiran sistem peringatan tersebut.
  5. Segera dilakukan edukasi kebencanaan, terutama di daerah rawan bencana. Papan peringatan, rute evakuasi harus dibuat atau dipasang dengan jelas.
  6. Dilakukan latihan dan simulasi penyelamatan diri dan penanganan secara berkala dan berkesinambungan hingga ke tingkat RT/RW agar membangun kesiapsiagaan bencana masyarakat.

Memetakan potensi bencana dan strategi jitu mitigasi

Walaupun demikian, prosedur mitigasi akan terus diperbaiki agar dapat membantu masyarakat. Namun intinya tetap mengedepankan early warning pada masyarakat sehingga mengurangi korban ketika bencana terjadi.

 

 

Leave a Reply