Mengenal Thalassemia dan Pencegahannya

Mengenal thalassemia dan pencegahannya
Mengenal thalassemia dan pencegahannya
Mengenal thalassemia dan pencegahannya

Thalassemia, siapa yang menduga bahwa nama Thalassemia ternyata adalah nama jenis penyakit yang berhubungan dengan sel darah manusia.

Pernah dengar juga nama Anemia, yang saya tahu yaitu jenis penyakit kekurangan darah, atau keadaan saat jumlah sel darah merah berada di bawah normal (sumber; Wikipedia.org).

Dalam rangka upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kanker dan Kelainan Darah di masyarakat, Kementrian Kesehatan mengadakan Seminar Masyarakat hidup sehat: Thalassemia dan kanker darah yang kali ini mengambil tema “Sehat Remaja, Sehat Indonesia Ku” pada Jumat (23/11) lalu.

Bertempat di aula Siwabessy gedung Kementrian Kesehatan, Jakarta hadir narasumber dr Theresia Sandra Diah Ratih, MHA., Kabid Pusat Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes. Dalam seminar tersebut beliau membahas mengenai apa itu thalassemia, gejala, pencegahan serta pengobatannya.

Apakah Thalassemia itu?

Thalassemia yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu thalassa yang berarti laut dan haema berarti darah. Secara sederhana Thalassemia adalah penyakit kelainan sel darah merah yang diturunkan dari kedua orang tua kepada anak dan keturunannya.

Thalassemia disebabkan karena berkurangnya atau tidak terbentuknya protein pembentuk hemoglobin utama manusia. Hal inilah yang menyebabkan sel darah merah mudah pecah sehingga pasien menjadi pucat karena kekurangan darah (anemia).

Mengenal thalassemia dan pencegahannya

Thalassemia sendiri terbagi menjadi 3 jenis yaitu:

1. Thalassemia Mayor.

Umumnya thalassemia mayor diketahui sejak bayi, gejalanya antara lain tampak pucat, lemah, lesu, sering sakit,pertumbuhan terhambat, pubertas pada anak yang lebih besar juga terlambat dan terkadang dengan perut membuncit. Pasien thalassemia jenis mayor ini secara rutin membutuhkan tranfusi darah setiap 2-4 minggu sekali.

2. Thalasemia Intermedia.

Thalassemia jenis ini biasanya baru terdiagnosis pada anak yang lebih besar. Gejala klinis mirip dengan thalassemia mayor, seperti pucat namun tidak tidak terlalu membutuhkan transfusi darah sesering thalassemia mayor.

3. Thalassemia Minor/Trait/Pembawa Sifat.

Pada thalassemia minor, gejala yang tampak biasanya tidak terlihat. Pasien terlihat normal, namun apabila dilakukan pemeriksaan darah, baru ditemukan kadar Hb yang sedikit dibawah normal. Pasien dengan thalassemia jenis ini juga tidak memerlukan transfusi darah.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2016 tercatat sebanyak 9.121 pasien thalassemia mayor. Indonesia termasuk dalam satu negara yang berada dalam thalassemia belt (Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika sub-sahara, dan Mediterania).

Penderita thalassemia biasanya dapat diketahui dengan gejala-gejala seperti:

  • memiliki riwayat penyakit keluarga yang anemia atau pasien thalassemia
  • pucat, lemas, lesu
  • riwayat tranfusi berulang
  • pemeriksaan darah lengkap

Penurunan penyakit thalassemia dari orang tua pada anaknya ini memiliki pola sebagai berikut, apabila kedua orang tua membawa sifat thalassemia, diperkirakan 25% sang anak akan menderita thalassemia mayor, 50% pembawa sifat dan 25% normal.

Apabila salah seorang dari kedua orang tua membawa sifat, diperkirakan 50% anaknya akan normal dan 50% lagi pembawa sifat (thalassemia minor.

Tapi, bila salah seorang dari kedua orang tua membawa sifat thalassemia mayor, maka 100% anaknya adalah pembawa sifat thalassemia.

Mengenal thalassemia dan pencegahannya

Pencegahan Thalassemia dan Pengobatannya

Walaupun penyakit thalassemia belum dapat disembuhkan, namun kita dapat mencegahnya. Caranya?

  • Lakukan skrining Thalassemia, yaitu dengan memeriksakan darah sedini mungkin. Bahkan untuk pasangan yang hendak menikahpun disarankan untuk melakukan skrining ini untuk mengetahui kondisi pasangan masing-masing apakah membawa gen thalassemia atau tidak. Apabila hasil positif perlu dilakukan konseling genetik sebelum menikah.
  • Pemeriksaan pada ibu hamil. Dengan melakukan pemeriksaan khusus pada janin di masa kehamilan untuk mengetahui apakah anaknya akan lahir dengan thalassemia atau tidak.

Baca juga : Tips Menangani Bayi Prematur agar dapat Tumbuh Kembang secara Optimal

Dari pemeriksaan tersebut setidaknya kita dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit thalassemia. Namun yang terpenting lagi adalah melakukan pola hidup sehat seperti yang dihimbau oleh pemerintah, dalam hal ini Kementrian Kesehatan.

Dengan kita melakukan pencegahan, paling tidak kita menekan biaya pengobatan thalassemia yang memang sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Pengobatan thalassemia satu-satunya yaitu dengan transfusi darah yang biayanya dapat mencapai Rp300-400juta/tahun/pasien.

Biaya tersebut akan meningkat seiring bertambahnya usia pasien dan komplikasi yang dialami. Bahkan untuk melakukan cangkok sumsum tulang di luar negeri dapat menghabiskan biaya hingga lebih dari 2 milyar untuk setiap pasien. Belum termasuk dampak psikologis pasien.

Oleh sebab itu dengan melakukan skrining sejak dini kita dapat menurunkan kejadian thalassemia di masa depan dan melahirkan generasi yang bebas thalassemia. Selain itu lakukan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) dan CERDIK, seperti Cek kesehatan secara teratur, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktifitas fisik minimal 30 menit/hari, Diet seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stress.

Mengenal thalassemia dan pencegahannya

 

 

 

 

Leave a Reply