Dengan Interaksi dan Komunikasi Keluarga, Anak Down Syndrome Bisa Mandiri dan Berprestasi

Anak Down Syndrom bisa mandiri dan berprestasi

Mereka memang beda,

tapi bukan untuk dibeda-bedakan

Memiliki anak merupakan anugrah terindah bagi pasangan suami istri juga keluarga besarnya. Anak yang sehat, lincah, aktif itu yang diharapkan. Terancang keinginan akan kehidupan anak nantinya di kemudian hari.

Anak Down Syndrom bisa mandiri dan berprestasi

Namun terkadang keinginan tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Memiliki anak dengan kondisi Down Syndrome tentu tidak diharapkan oleh sebagian pasangan suami istri. Namun bagaimana bila kenyataan itu terjadi bagi kita? Apa yang harus kita lakukan?

Down Syndrome, Beda tapi bukan untuk dibeda-bedakan

Syndrom Down (Down Syndrome) merupakan kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.

Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr. John Longdon Down. Ciri fisik umum yang tampak yaitu tinggi badan yang relatif pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongoloid.

Istilah Down Syndrome sendiri mulai dipakai tahun 1970an dengan merujuk pada nama penemu pertama kalinya sindrom ini yaitu Dr. John Longdon Down.

Memiliki buah hati dengan kondisi Down Syndrome memang membutuhkan kesabaran dan kekuatan hati. Tidak jarang masih ada masyarakat yang tidak mengerti bahwa kondisi tersebut murni karena kelainan kromosom, dan bukan karena kutukan apalagi karena guna-guna ilmu hitam.

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan untuk hadir di Talkshow Parenting “Persembahan untuk Ibu Hebat” untuk para ibu dengan anak Down Syndrome, pada Minggu (9/12) lalu. Acara yang digelar di Bellevue Suites & Hotel ini merupakan persembahan POTADS (Persatuan Orang Tua Dengan Anak Down Syndrom) dan didukung oleh BKKBN (Badan Kesehatan Keluarga Berencana Nasional).

Anak Down Syndrom bisa mandiri dan berprestasi
Sri Handayani, KetUm POTADS dan dr. Sigit Priohutomo, Plt Kepala BKKBN

Hadir di acara talkshow ini yaitu dr.Sigit Priohutomo selaku Plt. Ketua BKKBN, Sri Handayani Ketua Umum POTADS, Noni Fadillah Founder POTADS dan tentunya Tika Bisono Psikolog cantik yang juga penyanyi.

Anak Down Syndrom bisa mandiri dan berprestasi
Noni Fadillah, Founder POTADS

Acara dibuka dengan penampilan anak-anak Down Syndrome yang menarikan tarian ondel-ondel Betawi disusul dengan alunan lagu bersama-sama para peserta talkshow yang diiringi permainan keyboard oleh Eko, salah seorang anak Down Syndrom.

Mengharukan sekaligus ada rasa bangga, melihat penampilan anak-anak Down Syndrom yang berani tampil mengekspresikan diri. Terbukti mereka berhasil tampil berkat orang tua, terutama ibu-ibu mereka yang hebat.

Contohnya saja Jena, salah satu anak Down Syndrom yang juga putri dari ibu Noni Fadillah. Jena yang kini berusia 28 tahun, mampu berinteraksi dengan baik, bahkan memiliki kemampuan meracik kopi layaknya barista di coffee shop dan juga kegemarannya berlenggak-lenggok layaknya model professional.

Anak Down Syndrom bisa mandiri dan berprestasi
Jena, Anak Down Syndrom bisa mandiri dan berprestasi

So… memiliki anak Down Syndrome bukan berarti harus merasa malu. Anak adalah karunia Sang Pencipta, sejatinya mereka adalah inspirasi bagi para orang tua.

Anak Down Syndrome = Istimewa

Mengapa istimewa? Seperti yang dijelaskan panjang lebar oleh Tika Bisono, psikolog yang hadir sebagai narasumber ini bahwa anak Down Syndrom itu unik, berbeda dari anak normal. Namun begitu mereka memiliki kemampuan belajar yang besar, hal inilah yang nantinya akan mendorong mereka menjadi anak yang mandiri dan berprestasi.

Sebenarnya peran orang tua dan keluarga besar sangatlah diperlukan tidak hanya bagi si anak Down Syndrome itu sendiri tapi juga bagi seluruh anggota keluarga. Jangan pernah berpikiran bahwa anak dengan Down Syndrome itu tidak akan bisa apa-apa. Justru orang tua harus menekankan bahwa mereka pasti bisa dengan keistimewaan mereka.

1.Kenali dan amati karakter anak Down Syndrom

Seperti anak normal lainnya, kita juga harus mengenali karakter anak Down Syndrom agar kita dapat mengarahkan kemana dan apa minat dan kemampuannya.

2.Pelajari cara mengajar anak Down Syndrom dari yang lebih berpengalaman

Penting kita mencari tahu bagaimana menghandle anak dengan Down Syndrom dari yang sudah berpengalaman. Dengan begitu kita tidak merasa sendirian. Karena anak dengan  Down Syndrom memang berbeda dengan anak normal, jadi kita harus menggali pengetahuan dari yang sudah berpengalaman.

3.Jangan membanding-bandingkan

Jangankan anak dengan Down Syndrom, anak normal pun juga tidak akan suka bila dibanding-bandingkan.

4.Terus belajar dan sabar

Sebagai orang tua, tidak ada salahnya kita terus belajar dan sabar mengenali karakter dan kemampuan anak Down Syndrom.

5.Beri kesempatan mereka belajar

Jangan pernah memaksakan anak melakukan sesuatu, tapi beri kesempatan anak untuk mengeksplor apa yang menjadi minatnya.

Sejatinya anak dengan Down Syndrom adalah manusia yang juga ingin berkembang dan melakukan hal yang berguna. Disinilah peran kedua orang tua harus bahu membahu mendidik dan mengarahkan mereka.

Jangan lupa bahwa orang tua juga adalah pasangan suami istri yang saling mencintai. Jangan karena memiliki anak dengan Down Syndrom, maka hubungan suami istri menjadi terganggu. Pesan Tika Bisono, tetaplah melakukan hal-hal berdua pasangan tanpa melulu memikirkan terapi Down Syndrom.

Saling menguatkan antar pasangan justru akan semakin membuat para orang tua lebih ringan dalam mendidik dan membesarkan anak Down Syndrom hingga mereka bisa mandiri dan berprestasi.

Anak Down Syndrom bisa mandiri dan berprestasi

POTADS (Perkumpulan Orang Tua Dengan Anak Down Syndrome)

Berbekal pengalaman sebagai orang tua dengan anak Down Syndrome membuat Noni Fadillah dan rekan-rekan senasibnya membuat komunitas POTADS ini. Beliau merasakan sekali bagaimana rasanya mendapatkan bayi yang dilahirkan ternyata terdeteksi Down Syndrome.

Perasaan sedih, marah, stress, sakit hati, merasa bersalah berkecamuk menjadi satu. Bayangan bahwa anak Down Syndrome tidak dapat berbuat apa-apa selalu membayangi Noni ketika mendapati anaknya Jena terdeteksi Down Syndrome.

Berangkat dari hal-hal dan perasaan seperti itulah, POTADS dibentuk untuk mewadahi dan berbagi rasa bahwa tidak sendirian di dunia menjalani kehidupan dengan anak Down Syndrome.

Pada tahun 1997 POTADS terbentuk dengan Ketuanya Aryati Supriono, Sekretaris Noni Fadhilah dan Bendahara Ellya Goestiani. Kemudian perkumpulan ini di sahkan menjadi Yayasan POTADS oleh Notaris pada tanggal 28 Juli 2003.

Dengan moto POTADS Aku Ada, Aku Bisa, POTADS memberdayakan orang tua dengan Down Syndrome untuk selalu tetap semangat membantu tumbuh kembang anak-anak istimewa mereka, dengan maksimal hingga mereka dapat mandiri dan berprestasi layaknya anak-anak normal lainnya.

Hotline : 0812-9623-7423

Email : yayasanpotads[at]gmail.com

Website : www.potads.or.id

FB : POTADS Yayasan

 

 

10 Replies to “Dengan Interaksi dan Komunikasi Keluarga, Anak Down Syndrome Bisa Mandiri dan Berprestasi”

  1. Setuju banget nih mbak Hida, anak Down Syndrome ini justru special dan memiliki kelebihannya masing-masing. Karena kebetulan disekolah anakku menerima murid down syndrome dan memang bagus sekali perkembangan mereka.

  2. Siapapun berhak untuk mendulang prestasi dan jadi mandiri
    Aaaakk, senaaaangg dgn acara seperti ini. Encouraging bangeeet!

  3. salut sekali dengan orang tua yang bisa berbesar hati untuk menerima kondisi anak, insha allah anak dengan kondisi DS pun bisa mandiri dan berprestasi dengan caranya yah mbak dan sangat mendukung POTADS semoga selalu bersinergi untuk saling menguatkan

  4. Setuju banget anak down syndrome juga membutuhkan perlakuan yang sama dengan anak normal, dengan komunikasi yang baik dan terus menerus dilakukan, anak down syndrome juga bisa berprestasi lho.. sudah ada banyak contohnya dan memang orangtua yang memiliki anak down syndrome perlu kesabaran yang lebih juga

  5. terharu aku mba baca tulisanmu, memang semua anak bisa mandiri dan prestasi selama diperhatikan dan dibimbing ya

  6. Iya mba anak down syndrome sebaiknya dirangkul bukan dibeda-bedakan apalagi dikucilkan. Seneng tau ada program ini. Semoga pemerintah untuk terus pantau perkembangannya ya.

  7. Senang ada komunitas yang memberikan semangat besar pada orangtua dan juga keluarga yang anggota keluarganya, memiliki anak DS. Komunitas ini hanya untuk orangtua yang anaknya penyandang Down Syndrome ya. Aku lihat belum ada komunitas untuk anak CP (Cerebral palsy). Tapi bagus juga bahwa mereka ada bukan untuk dibedakan. Tetapi kemampuannya juga sama dengan anak-anak normal lainnya. Tuhan memang adil.

  8. Yupsss setuja… pada dasarnya kita semua sama. Sama memiliki hak untuk maju dan berkembang. Hanya saja cara dan jalan kita beda beda. Dan seneng banget deh kalau ada dukungan terhadap anak yg down syndrome. Mereka sebenarnya sama seperti kita hanya caranya yg beda. Terbukti kalau mereka didukung prestasinya bisa lbh baik dr kita. Luar biasa 🤗

  9. menginspirasi sekali tulisanmu kak.

  10. Banyak hal yg bisa dilakukan anak-anak down syndrome yg perlu adalah pemberian kesempatan

Leave a Reply