Dengan Pola Makan Sehat dan Bergerak, Yuk Lawan Obesitas

Obesitas atau kegemukan menjadi salah satu penyakit tidak menular selain diabetes, jantung koroner dan stroke. Di Indonesia bahkan lebih dari 13,5% orang dewasa usia 18 tahun keatas kelebihna berat badan, sementara itu 28,7% mengalami obesitas. Bahkan pada anak usia 5-12 tahun sebanyak 18,8% kelebihan berat badan dan 10,8% mengalami obesitas (berdasarkan sumber Kemenkes).
Jadi apabila kita melihat seorang anak yang terlihat gemuk janganlah senang dulu, bisa jadi si anak tersebut mengalami obesitas atau kegemukan, karena obesitas juga bisa dialami oleh anak-anak lho. Obesitas itu apa sih sebenarnya? Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidak seimbangan asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu lama (WHO,2000).
Apalagi masyarakat sekarang cenderung dimanjakan oleh kemudahan teknologi, hingga untuk menggerakkan badan saja rasanya berat banget. Ya ngga, teman? Belum lagi dengan pola makan yang serba praktis, cepat hingga tidak mempedulikan keseimbangan gizi dan nutrisi yang masuk dalam tubuh. Oleh sebab itu tidak heran apabila obesitas atau kelebihan berat tubuh menjadi kian bertambah sekarang ini.

img_20171116_113140-225982232.jpg
drg.Dyah Erti Mustikawati,MPH, Dr.(c)Rita Ramayulis,DCN,M.Kes, dr.Lily S.Sulistyowati,MM dan Dr.Michael Triangto, Sp.KO (Dok:twitter kemenkes)
Pada Selasa (7/11) lalu, bertempat di hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta Utara saya menerima undangan Seminar Hari Obesitas Se-Dunia dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Seminar yang dihadiri oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) ibu dr.Lily S.Sulistyowati, MM, dr.Ida Gunawan, MS.Sp.GK (K), Dr.Michael Triangto, SpKO, juga drg.Dyah Erti Mustikawati,MPH serta Dr.(c)Rita Ramayulis,DCN,M.Kes selaku Pengurus DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI).
Obesitas atau kegemukan itu dapat dipicu oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu:

  • Faktor Genetik, jadi apabila kita melihat seorang anak obesitas, kita lihat ada kemungkinan ibu atau bapaknya juga obesitas, karena peluangnya sebesar 40-50% untuk yang salah satu dari orang tuanya obesitas. Namun akan menjadi 70-80% apabila kedua orangtuanya menderita obesitas.
  • Faktor Lingkungan, yang terkait pada pola makan dan pola aktifitas fisik. Banyaknya masyarakat kita yang tidak memperhatikan keseimbangan asupan energi (tinggi karbohidrat, lemak dan gula, namun rendah serat. Belum lagi kurangnya aktifitas fisik. Lakukanlah minimal seminggu sekali selama 60 menit agar lemak yang ada di dalam tubuh terbakar menjadi sumber energi.
  • Faktor Obat-obatan dan Hormonal, penggunaan obat-obatan jenis steroid dapat mengakibatkan nafsu makan meningkat, juga peningkatan hormon dapat meningkatkan nafsu makan.

Seperti yang DR.Michael Triangto katakan, bahwa aktifitas rutin setiap hari yang kita lakukan dapat mencegah obesitas. Gak usah lama-lama atau olahraga yang berat, cukup aktifitas ringan yang dilakukan setiap hari dan rutin itu cukup kok. Misalkan saja apabila kita bekerja di kantor dimana ruangan kita berada di lantai 2, kita dapat menggunakan tangga untuk menuju ruangan kita. Atau apabila menggunakan kendaraan menuju tempat kerja, parkirlah agak jauh dan kita berjalan kaki menuju kantor kita. Selain itu juga biasakanlah melakukan peregangan di tempat kerja, seperti yang diperagakan bersama-sama pada seminar hari itu.
20171107_0802392131066477.jpg
Karena apabila aktifitas fisik tidak kita lakukan juga pola makan yang tidak seimbang, tidak diragukan lagi obesitas akan betah berlama-lama di tubuh kita. Dan dampaknya itu sungguh sangat macam-macam lho teman, yaitu:

  • Dampak Metabolik, ditandai dengan lingkar perut. Dimana lingkar perut pria dan wanita itu berbeda yaitu >90cm untuk pria dan >80cm untuk wanita, yang akan berdampak pada peningkatan trigliserida dan penurunan kolesterol HDL serta meningkatkan tekanan darah.
  • Dampak Penyakit Lain, berbagai penyakit mengiringi penderita obesitas yaitu asma, osteoartritis lutut dan pinggul, pembentukan batu empedu, sleep anoea (henti nafas saat tidur), low back pain (nyeri pinggang), kanker, stroke, gangguan menstruasi pada wanita juga perlemakan hati (sirosis) dan jantung, diabetes, hipertensi.

 

20171107_0849132131066477.jpg
Komplikasi akibat Obesitas (Dok:penulis)
Kalau sudah terkena komplikasi begitu banyak penyakit jadinya mengerikan juga ya teman. Memang sih mungkin terlihat sepele ya, aahh cuma gemuk sedikit ini. Tapi kalo kita tidak berusaha untuk merubah pola makan dan pola hidup kita ya tentu saja resiko penyakit-penyakit lainnya pun akan timbul juga.
Sebenarnya mudah saja kok, untuk kita mencegah obesitas atau kegemukan ini, yaitu dengan menggunakan prinsip mengatur keseimbangan energi. Jadi energi yang masuk ke dalam tubuh kita usahakan sebisa mungkin juga kita keluarkan kembali melalui aktifitas fisik. Lakukan pola pengelolaan sebagai berikut:

  1. Pola makan, atur porsi makan kita. Seimbangkan antara karbohidrat, protein dan serat, jangan dobel-dobel karbohidrat namun malah jadi minim protein dan serat. Perhatikan piring makanmu, dengan model T yaitu jumlah sayur dan buah harus dua kali lipat dari sumber karbohidrat dan protein. Sedang protein setara beratnya dengan karbohidrat.
  2. Pola aktifitas fisik, lakukan aktifitas fisik sederhana secara terus-menerus dan konsisten, karena bergerak itu maka energi yang masuk dapat terurai dengan kita bergerak dan tidak mengendap menjadi timbunan lemak dan penyakit.
  3. Pola emosi makan, atur emosi kita dengarkan apakah memang benar perut kita yang meminta makan (lapar) bukan mata kita. Karena sering kali kita baru saja menghabiskan sepiring mie ayam, misalkan tapi begitu mendengar atau melihat ada tukang somay, maka kitapun ingin juga padahal perut tidak mengirimkan kode lapar. Inilah yang disebut Dr.Rita sebagai lapar mata, sebaiknya lewati saja. Juga seringnya kita makan bukan karena lapar tapi karena mood, sedang sedih atau kesal maka yang dicari adalah makanan. Walau memang tidak semua orang seperti itu.
  4. Pola tidur/istirahat, lakukan istirahat yang cukup dan berkualitas agar hormon leptin yang mengkontrol rasa lapar tidak terganggu. Karena biasanya kalo kita kurang tidur cenderung suka makan berlebih dan memilih makanan yang tidak sehat yang akhirnya memicu obesitas.

Obesitas atau kegemukan selain mengganggu penampilan, juga mengganggu kesehatan dan membuat si penderita jadi tidak bebas bergerak. Oleh sebab itu untuk mencegah obesitas konsumsi makanan seimbang, perbanyak serat (sayuran dan buah-buahan yang kaya warna), banyak meminum air putih, hindari rokok dan minuman beralkohol atau soda, batasi konsumsi gorengan dan lemak trans (margarin). Selain itu juga biasakan jadwal makan teratur setiap hari untuk mencegah ngemil karena terlewat waktu makan. Lakukan pemeriksaan secara rutin seperti menimbang berat badan dan mengukur lingkar pinggang. Buatlah target terukur untuk aktifitas fisik dan jangan lupa berpikir positif dan mengenali emosi makan supaya tidak kalap, ketika melihat makanan yang menggoda padahal perut kita sudah kenyang.
Di acara seminar itu juga diluncurkan Buku Saku Ayo Bergerak Lawan Obesitas dan Buku Menu Catering  yang berguna sekali sebagai panduan kita dalam mencegah obesitas dan menyusun menu sehat untuk keluarga. Jangan lupa asupan gizi seimbang dan aktifitas fisik ya teman.
wp-1510807660876-225982232.jpeg
 
 
HQ,17
 
 
 
 

Leave a Reply