Film Merindu Cahaya de Amstel: Ketika Mencintai itu Karena Allah

Merindu Cahaya de Amstel

Keberadaan film Indonesia bertema religi kini mulai banyak bertebaran di dunia perfilman kita. Tidak sedikit yang menuai kesuksesan baik dari segi jumlah penonton yang memenuhi bioskop maupun dari lamanya film tersebut bertahan di layar lebar. Sebut saja film 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Wa’alaikum Paris (2016), 99 Nama Cinta (2019) dan masih banyak lagi. Ketiga film religi yang saya sebutkan tersebut berlatar belakang hubungan antar manusia lengkap dengan konflik dan pemecahannya, namun kesemuanya menuju satu titik yaitu cinta karena Allah.

Merindu Cahaya de Amstel

Begitu juga dengan film Merindu Cahaya de Amstel yang merupakan adaptasi dari novel Arumi E berjudul sama yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini sedikit banyak memiliki kesamaan dengan ketiga film religi tersebut. Yang membedakan yaitu bahwa novel ini based on true story seorang mualaf berkewarganegaraan Belanda bernama Khadija Veenhoven dan premisnya yang bagus, lain dari yang lain serta sayang bila tidak dijadikan film, begitu kesan sang produser Oswin Bonifanz ketika hadir di acara Screening dan Pers Conference film tersebut.

Merindu Cahaya de Amstel
Arumi E penulis novel Merindu Cahaya de Amstel

Baca juga: 99 Nama Cinta

Film Merindu Cahaya de Amstel, ketika mencintai itu karena Allah

Setelah menjalani proses shooting 2 tahun lalu, film Merindu Cahaya de Amstel produksi Unlimited Production, Maxima Pictures, Dwi Abisatya Persada, Imperial Pictures dan Maxstream Original ini akhirnya bisa tayang serentak di bioskop di seluruh Indonesia tanggal 20 Januari 2022 nanti. Pantesan aja ya proses shootingnya udah 2 tahun lalu, makanya lumayan banyak dialog-dialog yang terlupakan oleh para pemain ketika ditanya. Namun senang dan leganya ternyata film ini akhirnya bisa selesai juga dan bisa segera tayang.

Ketika pertama kali menyaksikan teaser film ini saya sempat bertanya-tanya ini shootingnya bagaimana, ya karena sekarang ini masih dalam kondisi pandemi. Ternyata proses shootingnya dilakukan sebelum pandemi dan besar harapan para pemain, produser, penulis, sutradara dan tentunya penulis novel Arumi agar film Merindu Cahaya de Amstel ini dapat diterima oleh masyarakat sama seperti keberadaan novelnya yang juga diterima dengan baik oleh pembacanya.

Merindu Cahaya de Amstel
Press Conference Merindu Cahaya de Amstel

Dalam Press Conference film Merindu Cahaya de Amstel yang di gelar di CGV Grand Indonesia ini, para pemain seperti Amanda Rawless yang berperan sebagai Khadija  dan Bryan Domani sebagai Nicholas van Dijck (Nico) mengalami banyak kejadian spiritual yang mengubah pemikiran dan sikap mereka. Hal tersebut juga dirasakan oleh Oki Setiana Dewi yang berperan sebagai Fatimah, teman serumah Khadija.

Kesempatan berdakwah dan memberikan informasi positif tentang Islam lah yang diambil oleh Oki dan juga sutradara Hadrah Daeng Ratu untuk menerima tawaran pembuatan film Merindu Cahaya de Amstel ini. Bagaimanapun media dakwah itu bisa dari berbagai cara, buat sineas seperti sutradara Hadrah, film pun bisa menjadi media dakwah. Walau begitu beliau tidak ingin film yang disutradarinya ini terkesan menggurui. Beliau ingin penontonlah yang mengambil hikmah dan pesan dari film Merindu Cahaya de Amstel ini.

Untuk kesulitan dan tantangan selama proses pembuatan film, pasti dialami baik oleh para pemain juga sutradaranya. Namun karena adanya saling kerjasama yang baik, maka kesulitan tersebut dapat dilewati. Khusus untuk pemain utama wanita yang diperankan Amanda Rawles yang khusus belajar dialog bahasa Belanda dan juga mengenakan hijab. Begitu juga dengan pemain lain yang saling membangun chemistry di antara mereka.

Merindu Cahaya de Amstel
Merindu Cahaya de Amstel

Film Merindu Cahaya de Amstel ini bercerita tentang perjalanan spiritual Khadija, seorang Belanda yang masuk Islam dan bertemu dengan Nico seorang fotografer yang secara tidak sengaja menangkap sosok Khadija melalui kameranya. Dari ketidaksengajaan pertemuan itu ternyata berlanjut ke pertemuan berikutnya yang menimbulkan cinta di antara mereka.

Setiap pertemuan pasti sudah ditakdirkan oleh Allah, bahkan sehelai daun yang gugur saja tidak akan terjadi kalau bukan karena takdir Allah begitu juga dengan pertemuan Khadija dan Nico. Bahkan kehadiran Kamala yang diperankan Rachel Amanda pun sudah ditakdirkan Allah. Walau mulai tercipta benih cinta diantara keduanya tidak membuat perjalanan hubungan mereka mulus, apalagi dengan perbedaan keyakinan dan kehadiran Kamala, yang sudah dianggap sahabat oleh Khadija.

Akankah hubungan mereka akan terus berjalan? Mendingan nonton kelanjutannya di bioskop kesayangan kalian tanggal 20 Januari nanti. Jangan lupa share pendapat kalian di kolom komen ini, ya.

Merindu Cahaya de Amstel
Merindu Cahaya de Amstel

 

Leave a Reply