Perempuan dan Kusta, Cara Menghadapi Stigma dan Tetap Mandiri, Berkarya dan Berdayaguna

penyakit kusta pada perempuan

Penyakit kusta sampai saat ini masih menjadi momok bagi masyarakat. Masih banyaknya masyarakat kita yang punya stigma terhadap penyakit kusta dan OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta) membuat miris, padahal penyakit kusta dapat disembuhkan dan OYPMK bisa hidup normal di masyarakat.

Penyakit kusta dapat terjadi baik pada laki-laki dan perempuan. Menurut penelitian WHO terhadap 202 pasien kusta di Ribeirão Preto, Brazil menyebutkan bahwa penyakit kusta yang terjadi pada perempuan makin memperburuk ketidaksetaraan gender, apalagi ditambah stigmatisasi diri pada perempuan lebih besar dibanding pada laki-laki sehingga berdampak pada aktivitas perempuan. Selain itu perempuan juga banyak yang mengurung dan menyembunyikan diri terkait penyakit kusta yang dideritanya.

Baca juga : Penyakit Kusta dan OYPMK dalam Perspektif Agama

Pada hari Rabu (30/08) saya berkesempatan mengikuti perbincangan tentang penyakit kusta dan perempuan yang diadakan oleh NLR Indonesia, salah satu yayasan nirlaba yang memusatkan kerjanya pada penanggulangan penyakit kusta dan konsekuensinya di Indonesia. Perbincangan ini disiarkan di channel youtube KBR dan juga siaran radio yang bekerja sama dengan KBR. Hadir Yuliati selaku Ketua PerMaTa SulSel & OYPMK Perempuan yang berbagi pengalamannya terkait penyakit kusta serta cara beliau bangkit dan menjadi OYPMK yang mandiri, yang berkarya dan bedaya guna.

penyakit kusta pada perempuan

Sebagai OYPMK, Yuliati awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya tertular penyakit kusta. Beliau menyadarinya setelah beliau mendapati ada bercak yang sudah mati rasa dan kering di ibu jari kakinya yang setelah didiagnosis ternyata merupakan pausibasiler atau PB atau kusta kering. Beliau didiagnosis kusta di tahun 2011 yang dengan penyakit ini membuatnya merasa malu, rendah diri dan bahkan menutupi tentang penyakitnya ini hampir selama setahun yang bahkan membuatnya putus kuliah karena malu. Terlebih lagi dukungan dari orang terdekat salah satunya kekasihnya tidak beliau dapatkan yang membuatnya berpikiran untuk bunuh diri. Namun bersyukur setelah beliau terbuka dengan pihak keluarga tentang penyakit kustanya ini yang memberikan dukungan penuh dan membantunya berobat hingga sembuh.

OYPMK Perempuan dan PerMaTa

Dukungan keluarga memang menjadi poin penting bagi para penderita kusta dalam mencapai kesembuhan. Hal tersebut yang dialami oleh Yuliati yang dengan dukungan keluarganya bertekad untuk sembuh dan menjalani pengobatan rutin selama setahun penuh dengan disiplin. Selain itu Yuliati juga bergabung dengan komunitas sesama penderita kusta yaitu organisasi PerMaTa, yaitu organisasi Perhimpunan Mandiri Kusta yang berlokasi di Sulawesi Selatan.

penyakit kusta dan perempuan

Organisasi PerMaTa yang berdiri 15 Februari 2007 ini sekarang diketuai oleh Yuliati, yang merupakan organisasi bagi para penyintas kusta. Di organisasi PerMaTa ini mereka mempunyai 4 program kerja yaitu Pemberdayaan, Pendampingan, Stop Stigma dan Penguatan Kebijakan. Ke 4 program ini perlu dilakukan agar masyarakat kita mendapatkan edukasi yang benar dan valid terkait penyakit kusta dan OYPMK.

“Orang yang mengalami kusta cenderung mengalami self stigma atau tidak mempunyai kepercayaan diri. Sehingga kami berpikir, bagaimana membantu mereka supaya bisa percaya diri dengan memberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kapasitasnya,” papar Yuliati, Ketua PerMaTa Sulawesi Selatan.

Pentingnya ke 4 program itu juga bagi OYPMK agar dapat kembali ke masyarakat dan hidup berdampingan layaknya orang normal lainnya. Oleh sebab itu di PerMaTa, Yuliati banyak memfokuskan pada pemuda-pemuda yang sebagai generasi penerus agar mendapatkan edukasi tentang penyakit kusta dan OYPMK.

“Kami fokus memberdayakan anak muda di Gowa, dimana anak muda ini membantu kelompok disabilitas maupun perempuan yang buta huruf, sehingga aktivitas sosial seperti ini, anak-anak muda tadi mempunyai kepercayaan diri bahwa mereka juga bisa bermanfaat bagi orang lain ataupun bisa membantu orang lain,” imbuh Yuliati, Ketua PermaTa Sulawesi Selatan.

Dengan adanya kegiatan seperti pendampingan, pelatihan-pelatihan akan membuat para OYPMK dapat menjadi lebih mandiri, lebih berkarya dan berdaya guna di mayarakat. Masyarakat juga mendapatkan edukasi tentang penyakit kusta dan menghilangkan stigma yang selama ini ada. Semoga kedepannya para OYPMK ini dapat lepas dari stigma dan Hingga kita bebas dari kusta.

 

Leave a Reply