Registrasi SimCard, Perlukah?Amankah?

Beberapa hari ini masyarakat dihebohkan dengan berita tentang registrasi ulang kartu operator telepon selular (simcard). Banyak yang termakan berita-berita hoax bahwa registrasi ulang dengan menggunakan nomer KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga) itu adalah akal-akalan pemerintah. Masyarakat khawatir data yang mereka kirimkan itu nantinya disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sayapun jujur saja tadinya juga merasa ragu, kenapa harus dilakukan registrasi ulang lagi? Dan kenapa juga harus mencantumkan nomer KK?
Untuk menjawab keragu-raguan saya tersebut, pada Selasa (7/11) kemarin, saya memenuhi undangan dari Forum Merdeka Barat 9 di acara diskusi terkait registrasi ulang simcard tersebut. Acara diskusi yang diselenggarakan bekerjasama dengan Kementrian Informasi Republik Indonesia ini bertempat di ruang Ruslan Abdul Gani gedung Kemenkominfo, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Menghadirkan narasumber antara lain Ahmad M Ramli selaku Direktur Jenderal PPI Kemekominfo, Zudan Arif Fakhrulloh selaku Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri, I Ketut Prihadi Kresna selaku Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, dan Merza Fachys selaku Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia.
20171107_1408422076748565.jpg
Mengambil tema “Kontroversi Registrasi Simcard (Nyaman, Aman, dan Menguntungkan Siapa?)”, diskusi dibuka oleh Ibu Niken Widiastuti selaku Direktur Jenderal IKP yang merasa perlu mengadakan diskusi ini agar masyarakat lebih teredukasi melalui kami, para blogger, netizen dan media yang hadir. Karena menurut pak Ahmad M Ramli, mulai dari diberlakukannya registrasi ulang hingga per tanggal 7 November pukul 12.30 telah tercatat 46.555.940 pelanggan melakukan registrasi. Hal ini tentu saja menggembirakan dan optimis bahwa masih akan ada lagi yang akan menyusul melakukan registrasi ulang dan akan memenuhi target yang ditetapkan sampai hari terakhir di 28 Februari 2018 nanti.
20171107_1350242076748565.jpg
Proses registrasinya pun juga sederhana, hanya mengirimkan data berupa nomer KTP dan nomer KK melalui SMS ke 4444 dan gratis, setelah berhasil akan mendapatkan balasan konfirmasi dari operator nomer simcard kita. Menjadi pertanyaan adalah apakah data yang dikirimkan itu akan aman? Apakah tidak akan disalahgunakan? Dalam hal ini Kominfo mengeluarkan peraturan yang menetapkan bahwa setiap data yang masuk akan dijamin oleh operator selular. Jadi tidak akan data tersebut menyebar ke pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
img_20171108_143655-982995917.jpg
Sebenarnya perlu ga sih registrasi ulang simcard itu? Toh waktu awal membeli simcard kita kan pasti sudah diminta untuk registrasi. Kalau dahulu mungkin masih banyak orang yang melakukan registrasi dengan data yang benar dan valid. Namun berjalannya waktu dan makin berkembangnya pertumbuhan jasa operator selular, dan juga mudahnya membeli simcard seperti kita membeli pisang goreng di warung-warung, maka semakin banyak juga orang yang melakukan registrasi dengan data yang tidak benar. Hal inilah yang menjadi concern Kominfo mengapa registrasi ulang harus dilakukan. Karena registrasi kartu selular prabayar itu akan mendukung ekonomi digital yang aman, juga memberi kepastian keamanan bagi masyarakat dan mendukung transaksi online.
Lalu bagaimana dengan kartu yang tidak diregistrasi sampai batas waktu yang ditentukan? Tentu saja akan ada sanksinya, namun dilakukan secara bertahap. Pertama akan dilakukan pemblokiran telepon keluar, jadi si pemilik kartu masih dapat menggunakan kartunya namun hanya sebatas menerima telepon atau sms dari luar. 10 hari kemudian setelah adanya warning tersebut masih tidak melakukan registrasi, maka akan ditingkatkan menjadi pemblokiran telepon keluar dan telepon masuk, namun kartu tetap masih aktif dan dapat dilakukan top up atau pengisian ulang. Apabila di warning kedua tersebut masih tidak melakukan registrasi ulang, maka bersiap-siaplah anda untuk say good bye pada simcard anda tersebut. It means..yah you knowlah kartu selular kita akan terblokir permanen.
Jadi apapun berita-berita diluaran sudah seharusnya janganlah dipercaya karena berita itu hoax semata. Data yang masuk di operator selular itu dijamin keamanannya dan operator tidak menarik data dari pelanggan melainkan hanya memvalidasi data yang ada. Jumlah pengguna simcard yang hampir 350juta itu tentu harus didata untuk kedepannya lebih terorganisir sehingga apabila ada kejadian mama minta pulsa atau sms undian berhadiah bisa cepat terlacak keberadaan si pemilik simcard tersebut. Sebenarnya registrasi ulang itu justru membantu masyarakat untuk patuh dalam pendokumenan kependudukan.
img_20171108_1442132076748565.jpg
 
HQ’17

0 Replies to “Registrasi SimCard, Perlukah?Amankah?”

  1. Perlu sih, cuma memang untuk pemakaian kartu sekali buang agak ribet. Sedangkan jika beli paket internet lebih mahal.

    1. Nah itu dia…orang kadang berpikirnya seperti itu. Padahal kalo di data kan untuk keamanan juga dari penipuan mama minta pulsa atau sms berhadiah, ya ga mbak?Anyway,makasih ya sudah berkunjung.

  2. Wah jadi diingatkan terus nih untuk registrasi, soalnya saya belum sempat juga nih

    1. Hai mbak Leyla..iya mbak,jangan lupa registrasi ya. Walau waktunya masih lama semoga segera dilakukan registrasinya daripada nanti kelupaan..hehe.Terima kasih sudah berkunjung ya.

  3. SIM card baru emang mudah Dan murah ,kalau udah hbis Di buang. Regritasi mudah dan gak sulit

    1. Kalau sekarang ga bisa begitu mpo,kita tetap harus melakukan registrasi setiap kartu sim card yang kita beli. Terima kasih sudah berkunjung ya.

Leave a Reply