Saatnya Milenial Sadar Gizi dan Pentingnya Edukasi SKM bukan Susu

milenial sadar gizi dan edukasi kental manis bukan susu

Di sore atau pagi hari jadi waktu yang pas untuk ngopi atau ngeteh ditemani dengan camilan. Camilan roti bakar atau pisang bakar dengan toping kental manis (SKM) jadi teman yang cocok, apalagi di tengah rinai hujan. Tapi perlu diingat untuk tidak berlebihan menggunakan kental manis sebagai toping camilan. Karena apa? Kental manis yang masyarakat kenal dengan sebutan SKM itu sebenarnya bukan susu dan bukan pengganti susu. Jadi sebaiknya tidak memberikan kental manis ini sebagai minuman kepada anak-anak kita.

Bahasan tentang kental manis bukan susu ini sering kali saya peroleh dari berbagai seminar, workshop maupun webinar. Sangat menarik melihat penggunaan kental manis di masyarakat kita masih cukup tinggi sebagai produk minuman susu, padahal kental manis itu bukan susu. Parahnya lagi, masih banyak juga yang menggunakan kental manis sebagai ASI bagi balitanya sebagai gizi pelengkap, duuh miris sekali.

milenial sadar gizi dan edukasi kental manis bukan susu

Pemerintah kita masih punya pekerjaan rumah terkait stunting dan gizi, hal tersebut tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat kita yang masih memberikan kental manis kepada buah hatinya sebagai pengganti susu. Padahal untuk mendapatkan asupan gizi yang baik bagi buah hatinya ada berbagai macam bahan pangan lokal di sekitar kita yang cukup murah dan berlimpah. Tidak melulu harus dengan susu.

Milenial sadar gizi untuk masa depan generasi penerus bangsa

Permasalahan stunting dan gizi ini hanya dapat diselesaikan dengan campur tangan berbagai pihak, tidak hanya pemerintah tapi juga seluruh masyarakat terutama kaum milenial yang menjadi generasi penerus bangsa. Sudah saatnya generasi milenial sekarang sadar gizi dan peduli bahwa kental manis itu bukan susu. Ada banyak efek samping dari konsumsi kental manis yang digadang-gadang sebagai minuman bergizi, salah satunya penyakit diabetes dan obesitas.

“Terkait penurunan stunting dan gizi buruk ini, Presiden Joko Widodo menargetkan penurunan hingga dibawah 14 persen pada tahun 2024. Sementara, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%”.

Oleh sebab itu berbagai strategi nasional telah ditetapkan pemerintah sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan Peraturan Presiden No 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting dengan target penurunan hingga 14 persen pada 2024. Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga telah menjalankan sejumlah program seperti Bapak Asuh, Dapur Sehat, Pendampingan Calon Pengantin, Kelas Pengasuhan Bina Keluarga Balita (BKB). Terkait program Pendampingan Calon Pengantin inilah peran milenial cukup strategis sebagai agent of change untuk sadar gizi dan edukasi bahwa kental manis itu bukan susu.

milenial sadar gizi dan edukasi kental manis bukan susu
Nara sumber webinar #MilenialSadarGizi

Seperti yang digelar oleh YAICI (Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia) yang melibatkan generasi milenial yaitu mahasiswa baik yang mengikuti secara online maupun offline dalam mengkampanyekan #MilenialSadarGizi berupa seminar “Aku, Kamu, Kita, Generasi Sadar Gizi” yang dilaksanakan pada Senin (05/09) bertempat di Auditorium Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Narasumber yang hadir dalam seminar tersebut yaitu: Arif Hidayat, Ketua Harian YAICI, Ns. Nyimas Heni Purwanti. M.Kep.,Sp.Kep An., Dosen UMJ, Maman Suherman, Pegiat Literasi dan Mochamad Awam Prakoso, Ketua Umum Kampung Dongeng Indonesia. Dalam paparannya Pak Arif mengatakan bahwa mahasiswa sebagai generasi milenial menjadi pondasi masa depan terkait edukasi dan literasi gizi. YAICI telah lama mengkampanyekan edukasi terkait kental manis bukan susu dan kini menyasar mahasiswa sebagai generasi milenial yang mempunya peran sebagai agen perubahan di masa depan.

Baik BPOM yang diwakili oleh dr. Hasto Wardoyo Sp.Og (K)., Kepala BKKBN yang hadir secara offline mengatakan bahwa BPOM dengan tegas mengatur penggunaan produk dengan kandungan gula yang tinggi pada kental manis. Dikatakan dalam PerBPOM No 31 tahun 2018 tentang Label dan Pangan Olahan terdapat dua pasal yang menjelaskan bahwa kental manis adalah produk yang tidak boleh dijadikan sebagai pengganti ASI dan dikonsumsi oleh anak di bawah usia 12 bulan, serta aturan mengenai label, iklan dan promosinya.

milenial sadar gizi dan edukasi kental manis bukan susu
pemenuhan gizi mencakup isi piringku

Begitu pula dengan penjelasan dr Nyimas Heny Purwati, bahwa pemberian kental manis sebagai pengganti susu untuk pemenuhan gizi merupakan hal yang salah. Pemenuhan gizi pada buah hati dapat dipenuhi melalui isi piringku yang sumber bahannya ada di sekitar kita dan cukup terjangkau. Selain itu perlunya dilakukan edukasi terkait kental manis bukan susu itu kepada para calon orang tua, dalam hal ini generasi milenial atau remaja.

milenial sadar gizi dan edukasi kental manis bukan susu
Kang Maman dalam webinar edukasi kental manis bukan susu

Bahkan Kang Maman sebagai penggiat literasi sering kali mengedukasi masyarakat akan pentingnya literasi gizi. Bonus demografi akan menjadi ancaman apabila generasi milenialnya tidak sadar gizi dan sadar literasi. Begitu juga dengan yang dilakukan kak Awam yang melakukan edukasi literasi gizi melalui dongeng. Jangan gadgetnya aja yang smart, tapi penggunanya juga harus smart. Saring sebelum sharing, begitu juga dengan informasi hoax terkait kental manis sebagai minuman susu. Jelas sekali itu salah kaprah, kental manis itu bukan susu dan bukan pengganti ASI bagi balita.

Yuk jadi generasi #MilenialSadarGizi untuk menjadikan Indonesia Maju di 2045.

milenial sadar gizi dan edukasi kental manis bukan susu
Aku, Kamu, Kita, Generasi Sadar Gizi

 

Leave a Reply