Bangkitnya Pariwisata Aceh menjadi The Light of Aceh

Aceh Meusapat

Kalau mendengar kata Aceh, saya selalu teringat bencana tsunami yang terjadi di Aceh, Desember 2004 lalu. Saya yang bukan tinggal dan mengalami kejadian itu aja sampai sekarang merasakan betapa dahsyatnya akibat bencana tsunami tersebut. Apalagi warga Aceh baik yang menjadi korban maupun tidak.

Bencana tsunami Aceh menghancurkan banyak tempat, baik rumah tinggal, sekolah, maupun fasilitas umum dan juga tempat-tempat wisata. Tak terbilang korban materil dan immateril.

Namun masyarakat Aceh mampu bertahan dan perlahan tapi pasti bangkit kembali. Pemerintah dan warga Aceh bahu membahu membangun kembali tempat tinggal mereka dan fasilitas lainnya. Perekonomianpun mulai bangkit lagi, begitu juga sektor pariwisatanya.

Aceh Meusapat

Kini sudah 15 tahun berlalu, Pemerintah Aceh kini semakin mengembangkan potensi diri dari berbagai sektor. Dari 15 program unggulan yang saat ini tengah dikembangkan Pemerintah Aceh, salah satunya adalah pembangunan sektor pariwisata yang dipadukan dengan pengembangan usaha kreatif masyarakat.

Mengapa usaha kreatif? Karena peluang usaha ini sangat menjanjikan, ada banyak sekali daya tarik wisata yang dimiliki Aceh, baik itu wisata alam, wisata budaya, wisata buatan, cagar budaya, dan sebagainya.

Aceh Meusapat

Optimisme Pariwisata Aceh

Sektor pariwisata Aceh menjadi salah satu program unggulan, diantaranya karena Aceh juga memiliki beragam seni budaya yang unik, seperti tarian, adat istiadat, sastra, seni lukis, maupun kegiatan spiritual yang begitu menarik bagi wisatawan lokal dan juga luar negeri.

Seperti yang dijelaskan Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh, bapak Ir. Nova Iriansyah MT pada pembukaan diskusi Dialog Pembangunan Pariwisata di acara Forum Silaturahmi Aceh Meusapat, Sabtu (21/12) berdasarkan identifikasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, setidaknya ada 797 objek wisata serta 774 situs dan cagar budaya yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota di seluruh Aceh.

Aceh Meusapat

Hal ini menandakan bukti keragaman kekayaan potensi pariwisata di Aceh. Acara Forum Silaturahmi Aceh Meusapat ini diselenggarakan atas kerjasama Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh yang bertempat di auditorium Mess Aceh, Jalan RP Soeroso, Cikini, Jakarta Pusat.

Hadir narasumber dan moderator diskusi serta para pejabat pemerintah Aceh juga tamu undangan dari instansi terkait, seperti:

  • Imaduddin Indrissobir, Sekretaris Jendral Perkumpulan Pariwisata Halal.
  • Yuana Rochma Astuti, S.E., M.Si, Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri, Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif, Kementrian Pariwisata dan Kreatif.
  • Dicky Andriansyah, Key Account Manager Traveloka.
  • Doto Yogantoro, Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari Kendal.
  • MY Bramuda, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

Bapak Nova juga mengatakan bahwa keindahan dan keragaman budaya yang dimiliki Aceh dapat dinikmati dengan adanya kemudahan aksesibilitas menuju tempat-tempat wisata Aceh, mulai dari darat, laut dan udara.

Aceh Meusapat

Untuk penerbangan internasional telah dibuka jalur khusus mulai dari Penang, Kuala Lumpur dan Jeddah. Bahkan akan dibuka Promosi dan perbaikan terus dilakukan oleh pemerintah Aceh, bahkan juga belajar dari pengalaman daerah wisata lain yang sukses mengembangkan pariwisatanya. Diantaranya belajar dari Bali, Lombok dan Banyuwangi.

The Light of Aceh

Pelajaran berharga didapat dari Banyuwangi yang bisa dibilang mengalami kemajuan pesat dalam mengembangkan industri pariwisatanya.

Seperti yang dijelaskan bapak MY Baramuda, bahwa Banyuwangi dulunya tidaklah sewangi namanya. Banyak wisatawan yang tidak mengenal Banyuwangi. Mereka sebatas hanya mengenal tentang Ketapang yang menjadi tempat menumpang ketika hendak menyebrang ke Gilimanuk, Bali.

Namun komitmen bapak Azwar Anas untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan diwujudkan dengan melibatkan seluruh divisi.

Aceh Meusapat

Dari segi potensi, Aceh banyak memiliki potensi bahkan kearifan lokalnya dapat menarik pengunjung sebagai salah satu pengalaman hidup diantara penduduk setempat.

Strategi itu pula yang dijalankan Pemerintah Daerah Kendal dalam mempromosikan sektor pariwisatanya. Keaslian kearifan lokal menjadi keunikan dan pengalaman tersendiri bagi mereka.

Namun demikian, kerjasama di semua bidang juga diperlukan untuk kemajuan sektor pariwisata. Salah satunya melalui sektor ekonomi kreatif.

Masukan dari para akademisi, pengelola usaha pariwisata dan para traveller sangat  diharapkan demi mempopulerkan branding ‘The Light of Aceh’ atau ‘Cahaya Aceh’ dapat menuai hasil yang memuaskan.

Aceh Meusapat

 

 

 

 

 

 

2 Replies to “Bangkitnya Pariwisata Aceh menjadi The Light of Aceh”

  1. Tempat pariwisata dan ukm sekitar memang harus diberdayakan ya, mba. Karena, bisa bantu masyarakat sekitar lokasi wisata agar bisa mengoptimalkan pendapatan mereka melalui penjualan sesuatu yang khas dari daerah mereka.

  2. Tagline-nya boleh juga ya, The Light of Aceh, semoga dengan semangat berbenah yang sedang digalakkan, pariwisata Aceh semakin maju dan memberikan dampak yang signifikan buat kesejahteraan masyarakatnya. Aamiin.

Leave a Reply

error: Jangan coba-coba copas yaa !!