The Power of Content, Magnet Penarik Pembaca 

Trend menjadi blogger sekarang ini sedang naik daun, banyak brand yang kini sering mengundang blogger untuk mereview produk atau event mereka. Banyak blogger-blogger yang lahir baik itu dari masyarakat umum maupun selebgram.
Blogger itu dilihat dari content blognya, yang sejatinya seorang yang mengakui dirinya blogger itu mampu mencurahkan pemikirannya melalui tulisan di blog. Sering karena mengikuti trend, predikat blogger dipakai hanya sebagai penghias. 
Misalnya seperti selebgram-selebgram yang foto postingannya banyak dilike orang, dengan follower yang mencapai ribuan bahkan ratusan ribu, dimana mereka mencantumkan blogger sebagai bagian dari profesi mereka. Namun ketika dicek content blognya sangat tidak relevan, parahnya lagi bahkan ada yang blognya kosong atau tidak ada sama sekali. Disayangkan sekali, apabila sudah memiliki ribuan follower, foto yang bagus menarik tapi content yang menjadi inti blog mereka tidak bernyawa. 
Seperti yang mbak Ani Berta, founder Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB)  jelaskan di “Sharing Session: The Power of Content” pada 13 Mei 2017 lalu. Workshop yang digagas Komunitas Indonesian Female Bloggers (IFB)  bersinergi dengan Komunitas ISB itu mbak Ani mendapatkan bahwa blog yang baik itu harus bernyawa, selain  memberi manfaat pada pembacanya juga harus dapat merepresentasikan jati diri si blogger dengan style menulisnya. 
Content dari suatu blog itu mutlak penting,  dimana content menjadi kekuatan dari suatu blog yang isinya mengalir ringan namun mudah dicerna juga informatif. Style penulisan ala blogger itu ada 2(dua) jenis, yaitu penulisan Hard News dan Feature Stories
Tipe Hard News (reportase) biasa dilakukan oleh wartawan/jurnalis, bedanya kalo blogger menulis tidak hanya berdasarkan pers release tapi ada pengembangan tulisan dan opini si blogger itu. Reportase ala blogger itu harus menggunakan prinsip 5W (Who, What, When, Where, Why) dan 1H(How), dalam menulis jangan lupa sisipkan pernyataan dari narasumber yang informatif dan bermanfaat. 
Untuk penulisan nama, gelar dari narasumber dan pengisi acara jangan sampai salah, disini kita bisa gunakan pers release yang ada sebagai acuan. Ada baiknya juga kita lakukan riset kecil-kecilan sebagai bahan pembanding atau verifikasi data yang akurat sebelum menulis reportase. Hal itu untuk meminimalisir kesalahan dalam memberikan informasi kepada pembaca. 
Saat acara berlangsung,biasakan melakukan live tweet dengan menggunakan hastag/tagar agar memudahkan kita menemukan arsip berita acara yang kita hadiri. Manfaat live tweet tadi itu ternyata dapat membantu kita:

  1. Sebagai notulen, bila kita hendak menulis reportase acara dapat kita buka kembali tweet acara tadi. 
  2. Sebagai content blog, tweet selama acara dapat kita pindahkan ke blog dengan beberapa pengembangan. 
  3. Menjaring follower organik, dengan mentweet selama acara berlangsung, secara tidak langsung kita sudah memberikan informasi yang bermanfaat kepada follower  kita, bahkan tidak mungkin ada yang meretweet hingga dibaca oleh akun lain dan menaikkan follower kita. 
  4. Memikat brand/sponsor, ada atau tidak adanya kewajiban live tweet selama acara sebaiknya kita lakukan. Besar kemungkinan live tweet yang kita lakukan terbaca oleh pihak sponsor yang kita mention, dan apabila tertarik bisa saja mereka menghubungi kita untuk suatu kerja sama. Seperti yang pernah mbak Ani Berta lakukan sebagai volunteer di Kementrian Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan, hingga pihak Australian Aid tertarik dengan isi tweet mbak Ani dan mengajak bekerjasama. Bahkan dari tweet sebagai volunteer membuahkan hasil dari KPPAI kepada mbak Ani dengan memberikan gaji bulanan. 

    Berbeda dengan wartawan yang menulis reportase, mereka tidak melakukan proses editing sendiri, melainkan dibantu oleh editor. Beda dengan blogger yang self editing, jadi selain mengedit tulisan sendiri, blogger itu harus multitasking. 
    Selain mengikuti acara, blogger harus dapat mendokumentasikan moment acara baik itu berupa foto maupun video, menulis poin-poin, juga melakukan live tweet. Dan tulisan yang merupakan inti dari reportase, dokumentasi (foto dan video) pendukung juga memegang peranan penting. 
    Usahakan gunakan foto hasil jepretan sendiri,  tanpa mengambil dari google atau meminjam foto teman. Karena etikanya, bila kita memakai  foto teman/orang lain maka kita harus mencantumkan tidak hanya nama tapi juga link blog mereka bila yang bersangkutan adalah seorang blogger. 
    Intinya pandai-pandailah mengambil moment pada saat acara berlangsung, misalkan kita kesulitan mendapatkan moment untuk didokumentasikan, bisa kita lakukan dengan mendekati si narasumber ketika acara selesai. Lain soal klo si narasumber langsung pergi begitu acara selesai. 
    Satu hal lagi yang tidak boleh dilewatkan yaitu menyiapkan notes kecil dan pulpen untuk antisipasi pabila gadget kita menghadapi kendala. Jadi kita masih dapat menuliskan poin-poin penting selama acara berlangsung. 
    Pada saat kita diundang ke suatu event, biasanya kita mendapatkan Pers Release dari pengundang. Gunakan pers release hanya sebagai acuan untuk kita menuliskan nama, gelar dari si narasumber, informasi tentang sejarah brand pengundang juga intisari acara.  
    Jangan tunda-tunda menulis dan memposting tulisan kita segera setelah acara selesai. Maksimal H+2 tulisan kita tentang event yang kita datangi sudah harus tayang dan disebar di sosial media. Jangan sampai tulisan kita menjadi basi, misalkan event yang kita datangi itu berlangsung 4(empat) hari tapi kita menulis dan mempostingnya seminggu kemudian. Tentu saja itu dapat mengecewakan pihak pengundang. 
    Sebar link tulisan kita ke seluruh sosial media yang kita punya seperti Faceboobok, Twitter, G+ dan memention pihak pengundang. Hal tersebut membuat pengundang senang karena event/produk mereka cepat dipromosikan. Khusus untuk G+ bahkan dapat menaikkan rate kita karena langsung terdeteksi. 
    Selain penulisan reportase ala blogger tadi, mbak Ani juga mengingatkan bahwa jenis Features Stories sebenarnya lebih cocok untuk blogger. Karena menampilkan self experience dari sisi blogger itu sendiri. 
    Seperti yang diceritakan Mayo (MadamYonna)  yang bernama asli Yonna Kairupan founder IFB yang juga Youtuber, walaupun suatu produk direview oleh banyak blogger tapi tetap masing-masing blogger memiliki ciri khas nya sendiri. 
    Features stories itu  seperti kita bercerita di setiap paragraph nya, ada sentuhan kepribadian dari blogger itu. Beda dengan reportase yang mengandalkan acara yang sedang berlangsung, sedang feature stories mengambil kedalaman dari tema yang diambil dengan menggabungkan dasar interview, observasi dan pengalaman blogger itu sendiri. 
    Satu hal lagi, features stories itu mengandung nilai artistik yang dikembangkan oleh sipenulis untuk mendukung content blog. Kebanyakan tulisan features histories juga menarik minat pembaca (page views). 
    Seperti pengalaman mbak Amanda Anandita seorang beauty blogger, yang page views nya mampu mencapai minimal 6000/hari..wow keren ya. Dalam menulis mbak Amanda konsekuen dengan satu tema dan rutin menulis setiap harinya. Tema yang dipilih pun biasanya yang ringan, misalkan dari komen-komen yang ada di salah satu postingannya di akun media sosialnya.
    Pada intinya content yang baik itu tidak sekedar ditulis tapi juga memasukkan unsur feel didalamnya. Saya merasakan juga, ketika suatu saat saya menulis karena suatu kewajiban sebagai blogger dengan ketika saya menulis tapi karena saya berharap mendapatkan sesuatu dari yang saya tulis (karena diundang ke suatu acara dan mendapatkan goodie bag atau bahkan fee). Mungkin beberapa blogger lain pernah mengalami. Tulisan yang ditulis bukan dari hati itu tidak hidup, tidak mengalir, tidak membuat pembaca merasa nyaman. 
    Sama dengan pengalaman mbak Emanuella (Ella) Christianti dengan blog nyonyamalas.com-nya. Pernah disuatu saat mbak Ella menulis karena untuk membuktikan diri di suatu kompetisi penulisan blog bahwa dia bisa, tapi setelah tulisannya selesai mbak Ella merasa kalo tulisannya itu “bukan saya banget” dan kenyataannya pun tulisan itu tidak berhasil memenangkan kompetisi. 
    Beda ketika kita menulis dengan hati, maka tulisan itu akan mengalir dan menghidupkan, maka yang begitu justru membuahkan hasil. Poinnya adalah menulis itu jangan selalu diniatkan karena supaya mendapatkan bayaran atau memenangkan suatu kompetisi. Karena kompetisi itu sendiri sebenarnya ada dihati kita sendiri. Niatkan hati bahwa yang kita tulis itu dapat memberikan manfaat ke orang banyak. 

    Suasana Sharing Session bersama IFB
    Peserta Sharing Session
    HQ’17

    0 Replies to “The Power of Content, Magnet Penarik Pembaca ”

    1. well noted ini mbak hida, saya pernah sekali ikut workshopnya teh ani berta, ilmu dari blio keren

      1. Iya mbak, gak nyesel kemarin datang dan mendapat ilmunya.

    2. Terima kasih sudah hadir Mba.
      Btw untuk tulisan wartawan bukan tidak ada proses editing Mba. Justru ada banget dan dilakukan oleh editor bukan wartawan nya sendiri.
      Sedangkan blogger, self editing 😀

      1. Terima kasih masukannya mbak. Maksud saya begitu juga, baiknya nanti saya edit lagi ya mbak.

    3. Banyak sekali ilmu yang didapat ya mba, semoga kita bisa menjadi blogger berkualitas seperti mereka.

      1. Ammin… Banyak banget manfaatnya dan harus makin sering kita menulis yang bukan hanya review produk/acara ya.

    4. Setuju banget kalo the power of content bisa menjadi branding penulisnya. Keren banget ya Mbak Hida materinya. Sangat bermanfaat! Moga besok2 ada acara yang seperti ini untuk upgrade penulisan

      1. Iya mbak Ayaa.. Beruntung deh Saya bisa hadir dan menyerap ilmu dari pakarnya. Aaamiin.

    5. Bagus banget artikelnya say, bisa buat nambah pengetahuan tentang content, jadi belajar lagi..:p

      1. Banget, apalagi belajarnya dari pakarnya langsung…

    6. Keren postnya banyak ilmu yg kuserap dan harus dipraktekan biar makin jaya jadi blogger

      1. Terima kasih sudah mampir ya mbak.. Salam kenal

    7. setuju bgt branding yg positif akn menjadi nilai plus dg penerapan content yg tepat juga menarik

    8. Makasih bnyk mba hida udh sharing ilmunya disini. Aku jd paham mana blogger beneran mana yg bukan hehege

      1. Sama-sama indri.. Harus terus belajar ya…

    9. Seneng banget ikutan workshop ini mbak, jadi kenal banyak teman baru…. 🙂 eh IFB mau bikin workshop lagi mbak…. temanya tentang youtube kalo ga salah…. ikut ga? yuuukkk….

      1. Iya, apalagi ketemu beauty blogger yg keceh abis tulisannya. Jd bisa tuk bahan referensi klo pas bingung cari kosmetik. Semoga bisa ikutan ya workshop vlogger nanti. Terima kasih sudah mampir ya mbak.

    Leave a Reply