Waspadai Kanker Kolorektal dan Pencegahannya

Kanker Kolorektal

Salah satu penyakit tidak menular yang saya takuti yaitu kanker. Teman-teman tahu nggak bahwa kanker menjadi penyebab kematian nomer satu di negara-negara maju dan mulai menjarah ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Kanker itu apa sih? Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak terkendali, yang kemampuannya menyusup dan merusak sel-sel sehat di dalam tubuh begitu cepat. That’s why kanker disebut juga dengan The Silent Killer.

Berdasarkan catatan Kementrian Kesehatan, di Indonesia kanker menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak setelah jantung dan stroke. Prevalensi penderita kanker di Indonesia yaitu 1,4% dengan jumlah total 347.792 penderita. Di Jawa Barat bahkan penderita penyakit kanker bertambah sebanyak dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir ini. Data yang di dapat dari RS Hasan Sadikin Bandung menyebutkan pada 2017 bahwa 21 dari 100.000 orang di Jawa Barat diprediksi menderita penyakit kanker.

Kanker sendiri ada banyak macamnya dan menyebar di seluruh tubuh kita. Kanker payudara menempati posisi paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia, disusul oleh kanker serviks, paru, kolorektal dan hati.

Kanker Kolorektal
(Pic by: pinkkorsetdotcom)

Dari sekian jenis kanker, kanker kolorektal termasuk yang paling banyak tidak diketahui oleh masyarakat awam. Pada Kamis (30/01/2020) saya mendapat kesempatan untuk hadir di seminar dan diskusi mengenai kanker kolorektal dan ginjal di CGV 23 Paskal, Bandung, Jawa Barat.

Tema yang diusung dari seminar dan diskusi kali ini yaitu “Tangani Kanker Kolorektal Sejak Dini” yang digagas oleh Parkway Cancer Center Bandung dan Yayasan CanHOPE. Dalam kesempatan itu hadir ibu Risma Yanti selaku Manager CanHOPE dan juga Dr. Zee Yin Kiat, Senior Consultant Medical Oncology Parkway Cancer Center secara live conference.

Kanker Kolorektal
Ibu Risma Yanti, Manager CanHOPE.

Kanker kolorektal atau disebut juga kanker usus besar merupakan keganasan yang menyerang jaringan usus besar (kolon) dan rektum (bagian usus paling bawah sampai anus/dubur). Di Indonesia kanker kolorektal menempati posisi kedua tertinggi pada pria setelah kanker paru.

Kanker Kolorektal
Dr. Zee Yin Kiat, Senior Consultant Medical Oncology Parkway Cancer Center.

Kanker kolorektal, gejala dan faktor resikonya

Kebanyakan kanker kolorektal bermula dari polip usus atau jaringan tumbuh di dinding dalam kolon atau rektum. Tapi tidak semua polip akan berkembang menjadi kanker, tergantung pada jenis polip itu sendiri.

Sayangnya, gejala kanker kolorektal ini tersamar dengan penyakit lain. Oleh sebab itu banyak yang datang ke ahli kesehatan ketika sudah stadium lanjut.

Adapun gejala yang dialami saat pertama kali kanker kolorektal muncul adalah:

  • Perubahan pola defekasi seperti diare, konstipasi, atau pengecilan feses yang tertahan hingga berhari-hari
  • Buang Air Besar (BAB) yang tidak tuntas
  • Pendarahan pada feses
  • Kram atau nyeri perut
  • Lemah dan lemas
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas

Kanker Kolorektal

Dari gejala yang terdeteksi sejak awal, sebenarnya ada faktor risiko yang menyebabkan penyakit kanker kolorektal yaitu faktor risiko yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah. Berikut penjelasannya pada faktor risiko yang dapat diubah, yaitu:

  • Hindari konsumsi daging merah berlebih dan daging olahan
  • Diet tidak seimbang dan kurang serat
  • Kurang aktivitas fisik
  • Obesitas
  • Konsumsi rokok dan paparan asap rokok
  • Konsumsi alkohol
  • Menderita penyakit gangguan pencernaan yang berulang
  • Diabetes Melitus tipe 2

Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat diubah, yaitu :

  • Usia > 50 tahun
  • Riwayat menderita polip
  • Riwayat menderita infeksi usus besar
  • Riwayat polip ataupun kanker usus besar dalam keluarga
  • Faktor genetik
  • Faktor ras dan etnik

Perkembangan polip menjadi kanker tidak semata-mata terjadi begitu saja, tapi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Disinilah yang sering kali tidak disadari oleh penderita kanker kolorektal.

Kanker kolorektal, penanganan, deteksi dini dan pencegahannya

Penanganan kanker kolorektal sebenarnya dapat didiagnosis melalui skrinning, yaitu dengan pemeriksaan tinja atau kolonoskopi. Kolonoskopi sendiri melibatkan penggunaan tabung tipis dan fleksibel yang disebut kolonoskop.

Alat tersebut dimasukkan melalui dubur untuk memeriksa lapisan dalam usus besar. Biasanya tindakan koloskopi ini membutuhkan waktu sekitar 15 menit dan polip jinak dapat dihilangkan selama proses koloskopi ini.

Kanker Kolorektal
Koloskopi pada Kanker Kolorektal

Bagaimanapun deteksi dini sangat dianjurkan untuk mengetahui temuan awal yang menunjukkan apakah polip tersebut termasuk kanker kolorektal. Deteksi dini kanker kolorektal dapat dilakukan dengan cara:

  • Pemeriksaan kondisi anus
  • Tes darah samar pada feses
  • Kadar CEA (pertanda tumor) dalam darah
  • DNA feses
  • Penapis tumor dari feses

Namun tetap pencegahan adalah yang paling dianjurkan agar kanker kolorektal tidak bersemayam di tubuh kita. Pencegahan terbaik yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan pola makan sehat, pertahankan berat badan, apabila merokok berhentilah dan hindari paparan asap rokok, rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari dan jauhi konsumsi alkohol.

Seperti halnya kanker kolorektal, ancaman kanker ginjal juga tidak main-main. Jangan beranggapan bahwa kanker ginjal hanya dapat menimpa pada orang yang berusia diatas 50 tahun, namun pada kenyataannya di usia muda pun dapat terkena kanker ginjal.

Vidi Aldiano, salah satu artis Indonesia yang bisa dibilang masih muda menjadi salah satu contoh penderita kanker ginjal yang menimpa di usia muda. Kanker ginjal di Indonesia menempati urutan ke 22 dari semua jenis kanker yang menyerang penduduk Indonesia.

Kanker

Gejala kanker ginjal seringkali muncul terlambat dikarenakan posisi ginjal yang berada di rongga perut yang besar dan ada kemungkinan tertutup atau tidak menunjukkan tanda-tanda yang terlihat.

Menurut Dr. Zee penanganan kanker ginjal berbeda dengan kanker kolorektal. Kanker ginjal menjadi resisten terhadap kemo, namun kini berkat kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan metode pengobatan kanker ginjal dapat dilakukan secara oral bertarget.

Apapun itu menjalani pola hidup sehatlah yang dapat menghindari kita dari timbulnya berbagai penyakit termasuk kanker kolorektal dan kanker ginjal. Lakukan CERDIK seperti yang dikampanyekan Kementrian Kesehatan, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktivitas fisik, Istirahat cukup, dan Kelola stress.

 

One Reply to “Waspadai Kanker Kolorektal dan Pencegahannya”

  1. […] tidak pandang umur maupun jenis kelamin. Kanker yang menyerang pada pria antara lain kanker paru, kolorektal, prostat, kanker hati dan […]

Leave a Reply