Yuk Jadi Ibu Cerdas Melek Gizi

Kesehatan anak di masa yang akan datang terbentuk dari bagaimana asupan nutrisi yang diterimanya. Tentu sebagai orang tua, kita ingin anak-anak kita tumbuh dan berkembang sehat jasmani dan rohani. Semua itu tidak di dapat secara instan lho. Pemberian asupan nutrisi sejak dari dalam kandungan hingga 1000 hari kedepan sangat penting untuk tumbuh kembang anak-anak. Oleh sebab itu mengapa sebagai seorang ibu kita tidak hanya dituntut untuk cerdas mengurus segala keperluan rumah tangga tapi juga cerdas dalam memberikan dan menyediakan nutrisi untuk keluarga atau istilahnya menjadi ibu yang melek gizi.

Seperti yang dijelaskan oleh para nara sumber dalam acara Temu Blogger: “Mari Menjadi Ibu Melek Nutrisi demi Mewujudkan Generasi Emas 2045” di Balai Sarwono, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, yang dimoderatori oleh ibu Kristin Samah dari Komunitas Kopi,Kebaya dan Buku diantaranya ibu Dr.Ir.Dwi Hastuti,MSc selaku Kepala Divisi Perkembangan Anak, Dept. IKK, FEMA, IPB dan Pengelola Labschool Pendidikan Karakter,IPB. Beliau mengatakan bahwa tumbuh kembang anak tidak terlepas dari pemberian nutrisi seimbang agar tumbuh optimal. Biasakan mendampingi anak di waktu makan sejak kecil di saat anak sudah mulai mengenal makanan (diusia 7bulan dengan MPASI). Ajarkan anak untuk duduk makan di meja makan bersama-sama. Biarkan si anak memilih makanan yang disuka dan diinginkannya dengan kita sebagai orang tua memberikan contoh terlebih dahulu bahwa makanan itu enak dan bermanfaat untuk tubuh.

Dr.Ir.Dwi Hastuti,MSc selaku Kepala Divisi Perkembangan Anak, Dept. IKK, FEMA, IPB dan Pengelola Labschool Pendidikan Karakter,IPB dan Kristin Samah dari Komunitas Kopi,Kebaya dan Buku (Dok:penulis)
Dengan pemberian contoh tersebut, anak akan belajar mengenal dan menyukai makanannya. Hingga besar nanti diapun akan tau mana makanan yang baik untuk tubuhnya dan akan menghabiskan makanan yang dia ambil. Jika tiba saatnya makan hindari pemberian jajanan atau cemilan karena akan membuat si anak akan merasa kenyang pada saat waktu makannya tiba. Seperti yang dijelaskan oleh bapak Prof.Dr.Ir. Dodik Briawan, Nutrisionist dan Peneliti di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara bahwa berikan asupan gizi seimbang kepada anak sejak anak mulai mengenal makanan. Keluargalah yang akan menjadi contoh si anak dalam mengenal dan menyukai makannya. Oleh sebab itu sebagai orang tua terutama ibu yang berperan dalam memberikan dan menyajikan masakan untuk keluarga di rumah sudah seharusnya cerdas dalam memilih mana makanan yang baik, mana yang tidak.
Prof.Dr.Ir. Dodik Briawan, Nutrisionist dan Peneliti di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara (Dok:penulis)
Aktifitas makan pada anak memang berbeda-beda, ada anak yang gampang makannya namun ada juga yang susah. Beberapa orang tua seringkali kesulitan mengajak anaknya makan hingga harus dibujuk-bujuk. Ada berbagai penyebab mengapa anak susah untuk makan, yaitu kemungkinan karena sebelumnya si anak sudah banyak mengkonsumsi makanan ringan atau jajanan. Padahal seperti yang kita ketahui jajanan itu sebetulnya hanyalah sebagai makanan pendamping bukan pengganti makanan utama. Kebanyakn dari para orang tua tidak memperhatikan komposisi bahan yang terkandung dalam makanan jajanan tersebut. Namun ketika anak mulai susah makan, banyak orang tua yang memberikan jajanan maknan atau minuman. Misalnya saja seperti pemberian SKM (Susu Kental Manis) layaknya minuman susu sehari-hari.
Syahrizal selaku tim penggerak PKK Pusat dan Natalya Kusumawati, Peneliti dalam menganalisa Label YLKI (Dok:penulis)
Padahal seperti yang kita ketahui SKM itu bahan dasarnya adalah 50% gula dan sisanya adalah air dan perasa susu. Bisa dibayangkan donk berapa kadar gula dan lemak yang akan ditimbun di dalam tubuh anak-anak kita kalau setiap hari kita memberikan SKM. Padahal SKM itu seharusnya hanya sebagai bahan makanan atau topping pada makanan seperti es krim, roti atau kue-kue. Mereka menganggap gak apa-apalah yang penting anaknya makan. Dampak pemberian SKM kedepannya sangat tidak baik untuk kesehatan anak, yaitu dapat memicu obesitas, beresiko penyakit diabetes, menyebabkan kerusakan ginjal dan menjadi salah satu penyebab karies gigi.
Banyaknya produsen makanan yang tidak begitu memperhatikan tentang komposisi bahan yang terkandung dalam makanan, kategori makanan tersebut cocok untuk siapa juga membuat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)merasa prihatin. Seperti yang dicontohkan Natalya Kusumawati, Peneliti dalam menganalisa Label dari YLKI bahwa ada jenis minuman instan yang memberikan keterangan tentang batasan siapa yang dapat mengkonsumsi produk itu dengan tulisan yang sangat kecil hingga hampir tidak terlihat. SEbagai konsumen yang cerdas juga harusnya kita teliti dalam memebeli produk-produk makanan apalagi yang akan dikonsumsi anak-anak kita
Oleh sebab itulah mengapa sebagai orang tua dalam hal ini ibu yang berperan mengatur, memasak, menyiapkan dan menyediakan makanan untuk keluarga agar dapat lebih cerdas lagi dalam menerapkan asupan nutrisi seimbang. Peran PKK sebagai penggerak hidup sehat juga sangat membantu pemerintah untuk memberikan penyuluhan dan informasi kepada ibu-ibu, seperti yang dikatakan oleh bapak Syahrizal selaku tim penggerak PKK Pusat. Manfaatkan PKK sebagai pusat informasi terdekat di lingkungan rumah. Karena tumbuh kembang anak akan optimal apabila asupan nutrisi seimbang yang didapatkan berjalan lurus dengan upaya pemberian stimulasi-stimulasi untuk mendukung kecerdasannya. Yuk jadi ibu cerdas yang melek gizi untuk generasi emas 2045.
 
Penulis bersama rekan-rekan Blogger Cihuy
 
HQ’17
 
 

28 Replies to “Yuk Jadi Ibu Cerdas Melek Gizi”

  1. Ibu harus paham ttg gizi seimbang utk keluarga krn masa dpn anak tergantung pd nutrisi yg ia konsumsi sejak dlm kandungan. Kebutuhan gizi pada anak itu persisten loh.

    1. Bener banget itu, ibu yang cerdas akan menghasilkan anak yang berkualitas. Makasih udah berkunjung ya.

  2. Memang beberapa hari ini saya melihat iklan susu yang agak gimana gitu. Kurang pas ya, semoga nanti ada iklan SKM yang pas agar pemirsa tidak salah mengartikan. SKM memang tidak cocok jika di padukan dengan nutrisi.

    1. Betul mbak, SKM itu bukan minuman susu walau ada kandungan susunya, tp kan sedikit sekali. Justru kandungan gulanya yg banyak banget. Makasih udah berkunjung ya.

  3. lagi lagi harus ibu nih yg kudu paham akan gizi yg dibutuhkan si anak, klo salah kasih nti yg disalahin kan bukan anaknya tp pasti ibu nya.

    1. Yup, betul. Yuuk jadi ibu cerdas agar anak berkualitas. Makasih udah berkunjung ya.

  4. Untunglah saya selalu pakai SKM untuk olesan roti dan cemilan, soalnya pernah diminum si kecil langsung sakit perut. Trims mba hida infonya bermanfaat

    1. Kalo anakku yg kecil pernah tuh bikin susu pake SKM, itu juga karena akunya lg gak dirumah. Sejak itu selalu diwanti2 ke anak- kalo SKM bukan minuman susu, kalo mau minum susu ada khusus susunya. Makasih juga ya sudah berkunjung.

  5. Memang benar, kalau ngajak makan anak bareng, jadi lebih semangat makannya. Trus juga usahain ada sedikit obrolan tentang menu makanannya, alhasil kegiatan makan anak jd lebih assik. So far seperti itu siyy Aku nerapinnya.. 😊

    1. Bener banget mbak, anak2 juga tetep harus dikasih tau ya tentang menu makanan sehat. Makasih inputnya ya.

  6. Orang tua wajib bangetbtahu hal ini, biar langsung bertindak dan memberikan yang ‘beneran’ susu buat sang buah hati.. Hehe

    1. Setuju ka…supaya anak berkualitas ya ibunya juga harus cerdas juga ya. Makasih sudah berkunjung ya ka..

  7. Di mulai dari pemenuhan gizi di keluarga, demi masa depan bangsa. Peran bunda sangat penting

    1. Setuju mpo…ibu yang cerdas akan menghasilkan anak yang berkualitas.Terima kasih sudah berkunjung ya.

  8. Hanni Handayani says: Reply

    sudah sepatutnya orang tua memberikan yang terbaik untuk anak, agar anak sehat dan cerdas

    1. Setuju kaka,orang tua cerdas anak berkualitas. Terima kasih sudah berkunjung ya.

  9. Harus makin di suarakan ke khalayak bahwa skm bukan susu konsumsi bayi. Harus perhatian banget soal gizi dan nutrisi utk perkembangan generasi emas

    1. Betul itu,agar semakin banyak ortu yang mengerti dan sadar bahwa SKM bukan minuman susu. Terima kasih sudah berkunjung ya.

  10. Aku suka minum SKM bun, dulu ga paham sama kandungannya yg berbeda sama susu bubuk atau cair yg lain. Tp skrg jadi paham deh, dan insya allah milih susu yg tepat untuk anak dan keluarga

    1. Alhamdulillah ya ka…semoga akan semakin banyak lagi ortu yang paham bahwa SKM itu bukan minuman susu. Terima kasih sudah berkunjung ya.

  11. Iya, keponakanku minum SKM, badannya jadi besar banget, udah nggak kayak anak SD, mungkin kebanyakan gula kali ya.
    Jadi salah ya kalau SKM dijadikan minuman, harus sebagai pelengkap makanan. Memang sih rasanya kental dan manis banget. Sayangnya mama, masih suka SKM dijadikan susu, katanya kalau diabetes bisa diobati pakai herbal.

    1. Aduh vy…sebaiknya dikasih tau deh kalo SKM itu kebanyakan gulanya daripada susunya. Gak cuma diabetes aja nanti yang datang,bisa aja mendatangkan penyakit lain nantinya. Stop jadikan SKM sebagai minuman susu ya?

  12. Sedih memang mbak, masih byk ibu yg ga tahu kalau skm itu bukan susu. Dgn alasan keuangan, mereka niatnya mau memberi susu untuk aank anak mereka.. Eh tp ternyata salah. Solusinya mendinh kasih makan gizi seimbang aja ya, jd ga minum susu jg ga papa

    1. Hai kk f2..iya,sudah seharusnya diberi pencerahan ke ortu yg masih memberikan SKM kpd anak2nya sbg minuman bahwa SKM itu bukan minuman susu. Terima kasih sudah berkunjung ya.

  13. Untuk anak memang harus lebih teliti. Terutama kebutuhan primer seperti susu. Kita harus melihat ingrediance supaya sesuai dengan kebutuhan gizi anak.

    1. Hai Tika…setuju,untuk anak agar tumbuh kembangnya optimal. Terima kasih sudah berkunjung ya.

  14. Alhamdulillah ya dengan adanya informasi ini, bikin kita semakin cerdas dan bisa meneruskan info jg pada org lain.

    1. Hai Mel…bener banget.Info yang bermanfaat sudah seharusnya disebarluaskan,apalg terkait dengan kesehatan.Terima kasih sudah berkunjung ya.

Leave a Reply